Tanggung Jawab Masyarakat terhadap Perpustakaan: Membangun Perpustakaan Berbasis Komunitas

A great public library, in its catalogue and its physical disposition of its books on shelves, is the monument of literary genres.
— Cited in World Literature Today, Spring 1982, p.231. Robert MELANCON

Perpustakaan kini telah mengalami pergeseran makna. Dari yang tadinya hanya merupakan suatu tempat penyimpanan (deposit) kini menjadi salah satu daya tarik dengan munculnya media interaktif perpustakaan digital (digital library). Dalam hubungannya dengan bidang sosial kemasyarakatan, perpustakaan merupakan tempat dimana kita semua bisa mengetahui gambaran tentang perkembangan pemikiran masyarakat.

Sesuai dengan perubahan dan perkembangan masyarakat yang beranjak meninggalkan era industri dan menuju next generation society. Next generation society yang dimaksud adalah masyarakat informasi, yang menjadikan informasi sebagai salah satu komoditas utama dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini, belum ada batasan dan definisi yang disepakati mengenai masyarakat informasi. Namun begitu, masyarakat informasi dapat diartikan sebagai berikut:

“..An information society is a society in which the creation, distribution and manipulation of information is a significant economic and cultural activity…”

(en.wikipedia.org/wiki/information_society)

Bila pengertian tersebut diterjemahkan secara bebas maka akan diperoleh pengertian sebagai berikut:

“Masyarakat informasi adalah suatu bentuk masyarakat dimana penciptaan, penyebarluasan, dan manipulasi informasi merupakan sebuah kegiatan ekonomi dan kultural yang signifikan.”

Pada masyarakat informasi, teknologi informasi memegang peranan sentral dalam kegiatan-kegiatan produksi hingga manipulasi informasi. Karenanya, masyarakat informasi sering disebut sebagai suksesor dari masyarakat industri dimana alat-alat dan teknologi industri sangat mendominasi.

Selain masyarakat informasi (information society) banyak istilah lainnya yang digunakan untuk menggambarkan bentuk masyarakat setelah masyarakat industri diantaranya adalah post-industrial society yang dikemukakan oleh Daniel Bell, post-fordism, post-modern society, knowledge society, telematic society, information revolution, dan informational society yang dikemukakan oleh Manuel Castells.

Berbicara tentang informasi, maka tidak akan lepas dari perpustakaan. Sesuai dengan salah satu fungsi perpustakaan yaitu fungsi informatif maka sudah menjadi kewajiban bagi perpustakaan untuk menyediakan layanan khusus informasi. Apabila informasi di perpustakaan sudah bisa didayagunakan oleh masyarakat penggunanya maka informasi tersebut memiliki nilai guna bagi masyarakat.

Pada tatanan masyarakat tersebut, perpustakaan akan menjadi salah satu institusi yang akan dijadikan basis dalam penyediaan pengetahuan dan informasi bagi masyarakat, selain research university. Maka dari itu, perpustakaan akan memiliki peran yang sangat besar bagi kemajuan masyarakat tersebut.

Karena keterkaitannya yang sangat erat dengan keberadaan masyarakat disekitarnya maka masyarakat pun dituntut bertanggung jawab untuk senantiasa memelihara dan menjaga perpustakaan agar mampu memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat.

Ketertinggalan suatu masyarakat terutama disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu: ketidaktahuan, kemiskinan, dan penyakit (ignorance, poverty, and disease). Ketiga faktor berkaitan erat satu sama lain, dan dalam usaha untuk menanggulanginya biasanya diutamakan berbagai usaha yang dikhususkan pada teratasinya faktor ignoransi, seperti antara lain program pemberantasan buta huruf, disusul dengan penyelenggaraan sekolah-sekolah dan kursus-kursus.

Berbagai usaha tersebut ditujukan agar penguasaan pengetahuan dan keterampilan warga masyarakat meningkat. Secara singkat, berbagai usaha untuk mengatasi ketertinggalan sesuatu masyarakat biasanya dimulai dengan usaha untuk meningkatkan kecerdasan. Dengan meningkatnya kecerdasan masyarakat maka meluas pula cakrawala pandangan masyarakat yang bersangkutan.

Perpustakaan merupakan salah satu di antara sarana dan sumber belajar yang efektif untuk menambah pengetahuan melalui aneka macam bentuk koleksi perpustakaan. Berbeda dengan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari secara klasikal di sekolah, perpustakaan menyediakan berbagai bahan pustaka yang secara individual dapat diakses oleh peminatnya masing-masing.

Tersedianya beraneka bahan pustaka memungkinkan tiap individu memilih apa yang sesuai dengan minat dan kepentingannya, jika warga masyarakat itu masing-masing menambah pengetahuannya melalui pustaka pilihannya, maka akhirnya akan terjadi pemerataan dan peningkatan taraf kecerdasan masyarakat itu.

Perbaikan mutu kehidupan suatu masyarakat ditentukan oleh meningkatnya taraf kecerdasan warganya. Maka kehadiran perpustakaan dalam suatu lingkungan kemasyarakatan akan turut berpengaruh terhadap kondisi ketertinggalan masyarakat yang bersangkutan.

Melihat kondisi seperti ini, diharapkan adanya prakarsa untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang perlunya kehadiran perpustakaan dalam kawasan sekitar tempat tinggal dimana mereka berada. Banyaknya kawasan hunian baru yang dibangun oleh para pengembang tidak selalu disertai pengadaan perpustakaan sebagai fasilitas umum. Jangankan di daerah hunian yang sederhana, di kawasan hunian mewah pun keberadaan perpustakaan sebagai fasilitas umum cenderung diabaikan.

Justru yang jauh lebih ditonjolkan sebagai keistimewaan adalah adanya shopping mall, department store, factory outlet dan berbagai fasilitas rekreasi lainnya dibandingkan kehadiran perpustakaan yang bisa melayani dan memenuhi kebutuhan minat baca dari para penghuninya.

Kehadiran perpustakaan di pemukiman hunian seringkali masih dianggap hal yang tabu. Padahal, dengan tersedianya fasilitas perpustakaan umum akan menjadi nilai tambah bagi proses pencerdasan masyarakat.

Tersedianya perpustakaan di dalam suatu pemukiman hunian harus berdasarkan nilai-nilai sosial yang terdapat didalam lingkungan dimana perpustakaan itu berada. Karakteristik kebutuhan koleksi bahan pustaka masyarakat disekelilingnya pun perlu diperhatikan agar perpustakaan tersebut mampu didayagunakan oleh masyarakat disekitarnya.

Perlu dicatat, bahwa perpustakaan masa kini tidak hanya memiliki koleksi buku-buku, melainkan juga berupa perangkat digital untuk penyajian bahan melalui CD, VCD, CD-ROM, dsb. sejalan dengan perkembangan teknologi informasi.

Sejalan dengan kemajuan teknologi informasi, perpustakaan juga bisa berfungsi lebih dari sekedar tempat simpan pinjam bahan pustaka ditambah ruang baca belaka. Perpustakaan modern seharusnya bisa berfungsi bagi penyelenggaraan berbagai forum penerangan dan pembahasan tentang masalah-masalah aktual, antara lain melalui penyelenggaraan diskusi panel, seminar, simposium, lokakarya, dsb.

Perpustakaan juga dapat menyelenggarakan acara pameran buku, pemutaran film, perkenalan dengan pengarang dan sastrawan nasional maupun lokal. Melalui berbagai forum pembahasan itu niscaya dapat didorong perkembangan berbagai pemikiran mengenai masalah-masalah aktual yang diahadapi oleh masyarakat yang bersangkutan.

Dalam proses perkembangannya, anggota warga masyarakat akan membutuhkan keberadaan perpustakaan. selanjutnya, dengan bertemunya individu-individu yang memilki kesamaan pandangan terhadap ketersediaan perpustakaan, maka akan terbentuk suatu komunitas.

Sampai pada tahapan ini kiranya sudah cukup baik untuk memulai suatu gerakan untuk membangun kecerdasan masyarakat. Gerakan seperti ini biasa disebut dengan gerakan literasi lokal.

Gerakan literasi lokal adalah suatu gerakan untuk memberdayakan masyarakat dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi individu (sebagai bagian dari masyarakat) untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan literasi.

Dengan terbentuknya komunitas-komunitas seperti komunitas membaca, komunitas puisi, komunitas baca-tulis, dll, maka kegiatan dari komunitas-komunitas tersebut tidak bisa terlepas dari peran perpustakaan sebagai penyedia koleksi bahan pustaka. Perpustakaan akan memiliki daya guna dan terbantu dengan hadirnya komunitas-komunitas tersebut.

Hal ini merupakan timbal balik dari adanya suatu continuity planning untuk pemerataan kesempatan dalam pemberantasan buta huruf dan peningkatan kecerdasan masyarakat.

Masyarakat yang sudah terbantu dengan hadirnya perpustakaan kemudian membangun kembali suatu komunitas literer untuk memfasilitasi dan menjembatani kebutuhan masyarakat dengan kehadiran perpustakaan.

Dengan demikian ada suatu akibat timbal balik yang dihasilkan dari continuity planning ini dengan mendirikan suatu  perpustakaan yang berbasiskan komunitas. Jadi, hadirnya masyarakat informasi yang diimbangi dengan perpustakaan sebagai salah satu institusinya menghasilkan suatu tatanan baru di dalam masyarakat yang memiliki tanggung jawab untuk memelihara keberadaan perpustakaan sebagai fasilitas umum yang berhak dinikmati seluruh anggota masyarakat.

Komunitas-komunitas ini sebagai bagian dari suatu sistem kemasyarakatan memiliki responsibility untuk mengabdikan diri bagi pemenuhan kebutuhan pendidikan dan peningkatan kecerdasan masyarakat yang tidak bisa diperoleh secara formal di sekolah/universitas. Dengan kata lain, gerakan literasi lokal ini berupa suatu pendidikan non-formal yang bisa diikuti oleh siapa saja tanpa batasan.

Untuk menjadi bagian dari masyarakat global yang menjadikan informasi sebagai kebutuhan utamanya, dibutuhkan sumber daya manusia yang memadai untuk menyonsong tantangan global tersebut.

Dengan adanya gerakan literasi lokal yang mengutamakan komunitas-komunitas sebagai basisnya maka tidaklah berlebihan bila nanti suatu saat akan banyak bermunculan perpustakaan-perpustakaan yang berbasis pada karakteristik komunitas-komunitas itu tadi.

Karena yang membedakan antara masyarakat modern dengan masyarakat primitif adalah tingkat melek huruf maka tuntutan akan keberadaan suatu ruang publik yang bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat (jasmani dan rohani) sudah menjadi keharusan sesuai dengan tuntutan masyarakat modern. Isu lainnya dalam hal tersedianya fasilitas perpustakaan adalah adanya kesadaran masyarakat terhadap tersedianya suatu ruang publik yang bisa dijadikan sebagai tempat rekreasi, center of knowledge, dan learning center.

Berdasarkan kepada kebutuhan publik tersebut maka perpustakaan harus mampu menjadi bagian dari solusi mengenai tuntutan publik tersebut. Perpustakaan harus bisa memposisikan dirinya sebagai tempat rekreasi yang patut dikunjungi dengan menawarkan beberapa kelebihan-kelebihan seperti mampu menjadi center of knowledge dan learning center yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Kemungkinan swakelola perpustakaan oleh masyarakatnya sendiri atau melalui komunitas-komunitas literasi perlu dipertimbangkan juga agar kehadiran dan fungsinya tidak terus-menerus diandalkan pada dukungan sumber daya dari luar, misalnya dari kalangan bisnis dan industri.

Namun demikian, dukungan tersebut sebaiknya ditujukan pada tumbuhnya kesanggupan swakelola perpustakaan oleh masyarakat yang bersangkutan. Kecenderungan untuk menggantungkan eksistensi perpustakaan pada dukungan dari luar masyarakatnya perlu diubah dengan menyadarkan masyarakat yang bersangkutan untuk sanggup secara mandiri mengelola dan mempertahankan kehadiran perpustakaannya demi peningkatan kecerdasan serta mutu kehidupan warganya.

Swakelola perpustakaan bisa menjadi nyata apabila masyarakat yang bersangkutan menyadari betapa perpustakaan dapat menjadi sumber belajar dan pada gilirannya berperan sebagai agen perubahan bagi segenap warganya.

Maka perlu dipikirkan berbagai cara agar perpustakaan dapat dihadirkan di berbagai cara agar perpustakaan dapat dihadirkan di berbagai kawasan pemukiman, terutama pada daerah yang kondisi dan taraf kehidupannya relatif tertinggal. Para pemuka masyarakat yang bersangkutan dapat berusaha menjalin kerjasama dengan dunia usaha dan industri yang adakalanya menyisihkan sejumlah dana bagi pengembangan komunitas (community development).

Bahan pustaka juga bisa diperoleh melalui kampanye pengumpulan sumbangan buku dan majalah dari perorangan maupun lembaga swadaya masyarakat. Tidak tertutup kemungkinan tersedianya bahan pustaka dan dokumentasi yang dapat dikumpulkan dari berbagai instansi, terutama bahan bacaan yang bersifat penyuluhan.

Dalam kerjasama dengan sekolah-sekolah dapat juga diusahakan pembuatan kliping dari media cetak oleh para pelajar sebagai pekerjaan rumah atau kegiatan ekstrakurikuler yang kemudian diteruskan sebagai sumbangan bahan bacaan di perpustakaan pedesaan.

Pendeknya, banyak cara untuk berusaha menghimpun bahan bacaan yang dapat dimanfaatkan oleh perputakaan pedesaan dan berbagai daerah hunian yang oleh satu dan lain sebab agak terbelakang pendidikannuya. Kehadiran perpustakaan di kawasan demikian itu niscaya besar dampaknya yang bersifat edukatif.

Dengan prakarsa tersebut, penyebaran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan sekaligus efektif berperan sebagai agen perubahan akan makin meningkat, terutama di kawasan pemukiman yang relatif tertinggal dalam usaha peningkatan kecerdasan serta perbaikan kehidupan warganya.

Dimulai dari Individu

Agar perpustakaan bisa bertahan dan terus memiliki nilai kegunaan bagi masyarakat di sekitarnya, harus ada penanaman nilai-nilai fungsionalitas perpustakaan yang ditanamkan sejak dini pada individu.

Berbagai kegiatan dari komunitas-komunitas literasi seperti story telling pada anak-anak harus dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai ini sejak dini. Selain itu juga, yang perlu ditanamkan juga adalah pemahaman long-life education, dimana pendidikan dan pembelajaran tidak akan berhenti pada suatu titik.

Apabila hal-hal tersebut bisa ditanamkan dengan baik maka nanti selanjutnya kita akan menuai hasil yang ditanam yaitu kesadaran untuk membaca dan kesadaran untuk terus belajar.

Kesadaran untuk membaca tidak hanya berarti hanya membaca buku ataupun koleksi bahan pustaka di perpustakaan saja. Tetapi juga membaca dalam pengertian luas yaitu, membaca perubahan zaman, membaca perkembangan pemikiran masyarakat, membaca kondisi sosiologis masyarakat setelah terbentuknya masyarakat informasi, dsb.

Kesadaran untuk belajar terus menerus akan menimbulkan suatu pemahaman-pemahaman, dan pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Dengan belajar memahami sesuatu, individu akan memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjadi manusia yang seutuhnya.

Dengan hadirnya gerakan literasi lokal yang cukup membantu memulihkan kesadaran masyarakat akan kebutuhan terhadap perpustakaan, posisi perpustakaan tidak lagi berada luar masyarakat. Tidak perlu ada lagi jarak antara perpustakaan dengan masyarakat sehingga tidak diperlukan lagi suatu ‘jembatan’ untuk menghubungkannya.

Perpustakaan akan menjadi bagian dari masyarakat, dimana kontribusi perpustakaan terhadap masyarakat akan dibalas dengan perhatian dan sense of belonging terhadap perpustakaan.

Partisipasi Pihak Lain

Kesadaran ini juga perlu mendapatkan perhatian pemerintah maupun pihak swasta. Pada dasarnya pendidikan adalah hak dan kewajiban seluruh warga negara. Dengan demikian, pemerintah harus menyediakan berbagai fasilitas pendukung untuk melaksanakan amanat tersebut.

Partisipasi pihak swasta pun diperlukan untuk menimbulkan kepercayaan dari masyarakat. Selain itu juga, partisipasi pihak swasta dalam penyediaan faslilitas perpustakaan umum dan pemberdayaan masyarakat merupakan salah bentuk dari corporate social responsibility.

Keterlibatan media baik media cetak maupun media elektronik diperlukan untuk memberikan wacana dan pemahaman terhadap pentingnya fungsi keberadaan perpustakaan di tengah masyarakat.

Media juga turut berperan serta dalam perkembangan taraf berpikir masyarakat. Terpaan media yang berjalan terus menerus menyebabkan masyarakat kehilangan orientasinya. Akibatnya, budaya baca dan minat baca masyarakat menjadi berkurang dengan hadirnya berbagai teknologi media.

Pengaruhnya adalah munculnya budaya instan. Namun, munculnya budaya instan ini tidak diikuti dengan berkembangnya pemahaman dan taraf berpikir masyarakat sehingga masyarakat cenderung mencari jalan pintas untuk mencapai tujuannya.

Agar tujuan-tujuan masyarakat mampu dicapai dengan tidak mengorbankan budaya baca dan perkembangan minat baca masyarakat maka media harus lebih arif dalam mensiasati dan merangsang audiensnya untuk memiliki kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya pemanfaatan perpustakaan. Minimal, media dapat memberikan pemahaman bahwa kehadiran perpustakaan tidak lepas dari keberadaan masyarakat itu sendiri.

Apabila elemen-elemen ini mampu bersatu dengan masyarakat disekitarnya maka terbentuknya suatu masyarakat yang cerdas dan siap bersaing menghadapi tantangan dunia global bukan lagi sekedar omong kosong.

Essay Ujian Akhir Mata Kuliah Perpustakaan dan Perubahan Sosial, Semester Ganjil TA 2006-2007

User Education dan Perkembangan Teknologi

Ketika kita memasuki sebuah perpustakaan untuk mencari sebuah koleksi tentang Mozart misalnya, kemana kita akan menuju?, langsung kepada rak koleksi?, bertanya pada petugas perpustakaan?, atau malah membaca seluruh kartu katalog?. Cara-cara seperti itu sering kali menjadi suatu pemandangan yang biasa di dalam sebuah perpustakaan. Dilihat dari sisi efektivitas dan efesiensi, kadang cara tersebut kurang menguntungkan.

Menelusuri langsung ke tempat penyimpanan koleksi mungkin akan menimbulkan kebingungan karena tidak tahu dimana lokasi pasti koleksi tersebut. Bertanya ke petugas perpustakaan mungkin salah satu terbaik (minimal) untuk mengetahui petunjuk lokasi tempat koleksi berada. Cara yang terakhir, adalah cara yang paling membosankan dan menghabiskan banyak waktu. Lagipula, kartu katalog manual sudah tidak lagi diminati karena banyak perpustakaan yang sudah menggunakan katalog elektronik, baik on-line maupun off-line.

Untuk mempermudah pengguna dalam menemukan koleksi bahan pustaka di perpustakaan diperlukan adanya suatu pembinaan terhadap pengguna agar mampu secara mandiri memanfaatkan perpustakaan.

Hal ini harus dilakukan untuk mengatasi kesenjangan antara petugas perpustakaan dan penggunanya sehingga dengan adanya komunikasi yang baik dan formal diharapkan semua sumber informasi yang ada di perpustakaan dapat dimanfaatkan secara tepat.

Sesuai dengan tuntutan tersebut, sudah menjadi tugas perpustakaan untuk memulai hubungan yang harmonis tersebut. Kegiatan seperti ini biasa disebut User Education/Pendidikan Pengguna, Bimbingan Pemakai, atau Reader Advisory Work.

Kegiatan pendidikan pengguna adalah semua aktivitas yang dirancang sedemikian rupa untuk mendidik pengguna agar sadar akan sumber-sumber informasi, fasilitas-fasilitas yang ada di perpustakaan, dan melatih pengguna dalam cara menggunakan hal tersebut secara tepat.

Berbagai kegiatan tersebut, bisa dikemas dalam bentuk yang beragam. Keragaman ini disebabkan karena kebijakan lembaga; visi, misi, dan tujuan lembaga; hasil yang ingin dicapai lembaga dengan adanya kegiatan tersebut serta pengguna perpustakaan sebagai subjek yang harus dilayani.

Sebagai contoh, perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki kebijakan yang berbeda dengan perpustakaan umum, akan melakukan kegiatan pendidikan pemakai yang juga berbeda. Hal ini lebih disebabkan karena pengguna perpustakaan tersebut. Perpustakaan perguruan tinggi yang notabene penggunanya sebagian besar adalah mahasiswa dan tenaga pendidik akan lebih baik bila menggunakan pendekatan komunikasi dua arah bagi program pendidikan penggunanya.

Untuk lebih memperlancar kegiatan pendidikan pengguna, petugas perpustakaan harus mampu merancang suatu bentuk promosi yang menarik agar pengguna (potential users) mau datang ke perpustakaan. Hal ini tentu saja berhubungan dengan minat baca masyarakat. Anggapan bahwa minat baca di Indonesia masih rendah masih menjadi halangan bagi perpustakaan untuk menjaring konsumennya (pengguna potensial).

Anggapan tersebut sering menjadi alasan bagi pengembangan perpustakaan di Indonesia. Kenyataan yang kini sedang berkembang adalah bahwa tingginya minat baca masyarakat Indonesia tidak diimbangi dengan fasilitas untuk menyalurkan minat baca tersebut.

Lalu juga, terpaan media yang sangat berpengaruh pada faktor budaya  menjadikan masyarakat Indonesia lebih senang menonton televisi daripada sekedar meluangkan waktunya untuk membaca buku, membuat perpustakaan kehilangan perannya di tengah masyarakat sebagai sarana belajar dan pendidikan non-formal bagi masyarakat.

Oleh karena itu, merancang suatu promosi yang berhasil diharapkan menjadi fasilitator atau jembatan bagi masyarakat dengan perpustakaan. Untuk jangka panjang diharapkan peran perpustakaan di tengah masyarakat mampu merubah budaya bangsa dari budaya menonton ke budaya baca. Budaya baca tidak berarti membaca, membaca dan hanya membaca buku atau literratur lainnya. Tetapi, dengan membaca diharapkan kita bisa membaca perkembangan zaman, membaca kemajuan ilmu pengetahuan, membaca kejadian dan peristiwa, serta membaca kehidupan.

Promosi yang berhasil tidak akan berarti apa-apa tanpa pengetahuan petugas perpustakaan tentang siapa/profil penggunanya. Dengan mengetahui karakter pengguna perpustakaan, seorang petugas perpustakaan harus mampu membimbing penggunanya untuk mendapatkan apa yang mereka mau di perpustakaan. Tentunya kegiatan ini melibatkan proses komunikasi dua arah. Disinilah peran petugas tersebut sangat menentukan kegiatan bimbingan pengguna.

Sesuai dengan perkembangan teknologi, beberapa perpustakaan telah melakukan perubahan-perubahan. Beberapa perpustakaan sudah mulai menerapkan sistem otomasi perpustakaan dengan atau tanpa berbasis web untuk lebih mempermudah aktivitas pelayanan. Perubahan yang nampak karena pengaruh kemajuan teknologi adalah berkembangnya perpustakaan digital. Sebut saja Perpustakaan British Council yang sudah menerapkan digitalisasi koleksinya, dan menghibahkan semua koleksi cetaknya ke Perpustakaan Pendidikan Nasional.

Dengan maraknya perpustakaan berbasis digital maka terjadi variabilitas dalam layanan bimbingan pengguna. Kegiatan bimbingan pengguna pun disesuaikan dengan kemajuan teknologi. Dari yang awalnya bertanya pada petugas, kini lebih mudah dengan menggunakan komputer. Namun, tetap saja penelusuran dengan menggunakan sistem otomasi ini memerlukan bimbingan. Salah satu caranya bisa dengan menyebarkan leaflet/buku petunjuk penelusuran, seperti yang dilakukan CISRAL UNPAD.

Lalu, kemajuan lainnya adalah berkembangnya online information retrieval. Yang memungkinkan kita mengakses koleksi suatu perpustakaan yang berbasis web. Adanya hal ini juga menyebabkan perlunya bimbingan. Tujuan dari bimbingan ini adalah: pengguna tahu bagaimana menggunakan basis data  dan sistem informasi untuk penelusuran informasi dan mengetahui metode penelusuran.

Pendidikan pengguna, bimbingan pengguna, apapun namanya, sudah harus menjadi kewajiban bagi setiap perpustakaan agar penggunanya memiliki wawasan pengetahuan yang luas karena didukung informasi mutakhir melalui penelusuran di perpustakaan serta dapat memanfaatkan perpustakaan untuk belajar seumur hidup atau bekal untuk long life education.

Daftar Pustaka:

Fjallbrant, Nancy & Ian Malley. 1983. User Education In Libraries. Clive Bingley: London

Prytherch. R. J. 1988. The Basics of Readers Advisory Work. Clive Bingley: London.

Dibuat sebagai tugas Mata Kuliah User Education, Semester Genap TA 2005-2006

Masyarakat Informasi dan Hasrat Ekonomi Kapitalis

Istilah masyarakat informasi lahir dari tulisan-tulisan ilmiah-populer dari Daniel Bell, Edwin Parker, Marc Porat, Peter Drucker, John Naisbitt, dan Fritz Machlup. Masyarakat informasi sendiri memiliki pengertian “…a society in which the creation, distribution, and manipulation of information is a significant economic and cultural activity..”.(wikipedia.org)

Mengacu pada pengertian tersebut, masyarakat informasi adalah masyarakat yang menjadikan informasi sebagai komoditas untuk kegiatan kehidupan sehari-hari. Tidak berhenti sampai disitu saja, kegiatan tersebut telah menjadi suatu aktivitas kultural, sehingga budaya perilaku informasi masyarakatnya mencerminkan suatu ciri bagi keberadaan masyarakat tersebut.

Lahirnya masyarakat informasi juga ditandai dengan beberapa tahapan perkembangan masyarakat. Setelah diawali dengan lahirnya masyarakat agraris dan masyarakat industri, masyarakat informasi hadir sebagai transformasi sistem pikiran manusia atau dengan kata lain industrialisasi pikiran manusia dimana teknologi informasi memiliki peran sentral untuk melakukan berbagai kegiatan, terutama kegiatan-kegiatan dalam bidang ekonomi.

Ide-ide ekonomi yang juga merupakan upaya untuk mewujudkan masyarakat informasi adalah:

-          Informatisasi dianggap sama dengan komputerisasi, sehingga masyarakat informasi memerlukan industri yang memproduksi barang elektronik dan komputer.

-          Masyarakat informasi adalah masyarakat modern yang mengejar kebutuhan psikologis, sehingga proporsi untuk “biaya informasi” cenderung meningkat.

-          Selain komputerisasi, informatisasi juga menimbulkan diversifikasi tuntutan dan perluasan pilihan konsumen serta melahirkan industri informasi.

Berangkat dari berbagai pemikiran diatas, maka masyarakat informasi adalah masyarakat yang dijadikan target atau objek dari kaum kapitalis yang menguasai industri teknologi. Teknologi yang digunakan dalam masyarakat informasi adalah produk dari corporate capitalism.

Teknologi informasi dipilih dan digunakan untuk kepentingan sistem ekonomi yang didominasi oleh organisasi besar yang mencari keuntungan dan didukung oleh lingkungan politik yang pro-bisnis.

Informatisasi menjadi pintu masuk ke dalam kapitalisme, sebab negara-negara maju pun segera menjadikan informasi sebagai barang dagangan yang menghasilkan keuntungan luar biasa.

Menurut Putu Laxman Pendit, tidaklah aneh untuk mengaitkan “masyarakat informasi” dengan “kapitalisme”. Hampir semua ungkapan tentang “informasi” dikaitkan dengan biaya, teknologi informasi, dan kesemuanya itu bermuara pada suatu hal yaitu uang. Sehingga sangat sulit bagi kita untuk berpikir bahwa “informasi” bisa gratis. Kalaupun “informasi” itu gratis, maka kualitasnya akan dipertanyakan. Lebih jauh, kualitas informasi dan produk informasi akan dinilai dari harga jualnya.

Komodifikasi informasi dan kapitalisasi bidang informasi diterima begitu saja sebagai suatu kewajaran. Akibatnya. ukuran-ukuran yang dikenakan pada lembaga-lembaga informasi akan meninjam ukuran-ukuran jual-beli pada umumnya, seperti yang dipakai untuk lembaga bisnis lainnya.

Kini, kita berada dalam suatu skenario besar yang dirancang oleh kepentingan kaum kapitalis. Mengapa setelah Presiden Bush datang ke  Indonesia tahun ini baru ada program untuk mengatasi kesenjangan digital atau melek teknologi? Atau, di tahun ini juga PT. Telkom mempromosikan program ‘Internet Masuk Desa’? Jawabannya adalah agar penggunaan produk teknologi informasi menjangkau masyarakat secara meluas. Akibatnya, akan terjadi kenaikan permintaan terhadap produk ini. Sehingga, perusahaan-perusahaan besar di bidang teknologi informasi dan komputer akan meraup keuntungan yang semakin besar.

Di satu sisi, penggunaan teknologi informasi membawa manfaat bagi perkembangan intelektual masyarakat. Namun, pada sisi lainnya penggunaan teknologi informasi sudah menjadi suatu lahan bisnis yang didominasi oleh dan untuk kepentingan kapitalis. Sudahkah kita sadar?

Disampaikan sebagai materi diskusi 2 mingguan di Perpustakaan FIKOM UNPAD, 21 Desember 2006

Document & Query Forms

Dokumen dan Bentuk-bentuk Query

Didalam sebuah sistem informasi, data termasuk kedalam dua kategori utama yaitu dokumen atau data yang akan/telah disimpan dan di temu balik, serta query-query tentang kebutuhan informasi.

Dari sudut pandang temu balik informasi kunci masalahnya adalah bagaimana untuk menyatakan kebutuhan informasi dan bagaimana mengidentifikasi dokumen yang memenuhi kriteria kebutuhan informasi itu tadi.

Konsep Dokumen

Banyak orang berpikir bahwa dokumen hanyalah sebuah kertas tercetak atau buku, namun untuk tujuan temu balik informasi dokumen mencakup spektrum yang lebih luas.

Dokumen adalah data yang disimpan dan dibuat dalam bentuk apa saja. Dokumen mencakup tidak hanya material tercetak, tetapi juga tulisan informal seperti surat atau pesan singkat.

Konsep dokumen bisa juga diperluas mencakup program komputer, file data, pesan e-mail, gambar dan koleksi gambar, berbagai grafik dan suara, atau rekaman suara.

Konsep kunci yang melandasi penyimpanan, pencarian, dan proses temu balik adalah dokumen tersimpan dalam bentuk yang bisa diperoleh kembali.

Struktur Besar Data

Apapun struktur murni dari dokumen, entah itu berupa angka-angka, kata-kata, pixel-pixel, ataupun yang lainnya, ada sebuah struktur besar yang melingkupinya. Struktur ini mempengaruhi format penyimpanan dokumen dan mode aksesnya. Karakteristik utama dari struktur besar ini adalah perluasan dan jenis penyusunan yang ditunjukkan oleh dokumen.

Spektrum pertama adalah dokumen-dokumen yang terformat penuh (fully formatted documents). Data yang ditemukan pada basis data relasional, jaringan, atau hirarkis adalah tipikal dari dokumen-dokumen tersebut.

Setiap dokumen dari jenis dokumen ini terdiri dari beberapa field yang belum terdefinisi. Setiap field memiliki sebuah ukuran yang belum didefinisikan serta posisi dokumen. Selama data memenuhi spesifikasi dari field, tipe struktur ini sangat baik untuk temu balik terperinci dari data yang terperinci juga dan untuk temu balik data yang ada didalam jangkauan spesifik dari nilai-nilai (values). Salah satu data yang dibutuhkan berada pada field-field yang seharusnya atau malah tidak ada di dalam basis data. Struktur terformat penuh ini kurang tepat untuk penyimpanan data yang tidak terperinci dan untuk merespon query yang tidak rinci, dimana harus ada penilaian intuitif yang dibuat berdasarkan ketepatan data pada field basis data dan query.

Spektrum terakhir adalah dokumen tidak terformat penuh (fully unformatted document) yang berarti bahwa dokumen-dokumen yang strukturnya hanyalah perintah yang ditentukan oleh proses penyimpanan dokumen itu sendiri. Sebagai contoh, data telemetri, data suara dan gambar atau bahkan beberapa data tekstual menunjukkan sebuah ketiadaan struktur yang mempengaruhi proses penyimpanan dan temu balik.

Beberapa struktur yang ada didalam sebuah dokumen secara langsung mungkin tidak terlihat dan tidak tersedia bagi pengguna didalam sebuah sistem informasi.

Dokumen-dokumen elektronik seringkali memiliki tambahan penyandian informasi tentang format yang tidak umum untuk dilihat oleh pengguna. Bagaimanapun, sebuah sistem informasi bisa dirancang untuk menggunakan sandi-sandi (kode) didalam menganalisis dan menyimpan sebuah dokumen.

Selain adanya struktur eksplisit seperti ini, sebuah dokumen juga memiliki struktur implisit seperti pengidentifikasi dokumen (document identifier) yang secara otomatis telah ditentukan atau hubungan logis, grafis, dan konseptual diantara berbagai bagian dari dokumen. Secara klasik, struktur implisit ini telah digunakan untuk pemeriksaan kesalahan (error checking), seperti menjamin bahwa data yang disimpan pada sebuah field harus berada pada batasan-batsan yang dipaksakan pada field tersebut.

Document Surrogates (Wakil-wakil Dokumen)

Banyak data yang disimpan pada basis data relasional merupakan document surrogates yang merupakan representasi terbatas dari keseluruhan isi dokumen aslinya. Karenanya, banyak juga kegiatan temu balik informasi yang berfokus pada document surrogates tentang bagaimana untuk menciptakannya dan juga bagaimana untuk merespon sebuah stated information need (kebutuhan informasi terucap).

Masalah pertama yang menantang dalam penyimpanan dan temu balik informasi berpusat pada document surrogates sejak penggunaannya secara potensial menjukkan ketidaklengkapan pengetahuan tentang dokumen itu sendiri.

Wakil (surrogate) pertama dari setiap dokumen secara nyata adalah sebuah pengidentifikasi dokumen (document identifier). Beberapa identifier hampir selalu dilampirkan pada sebuah dokumen yang berarti menghubungkan surrogate pada dokumen aslinya.

Secara khusus, data lain yang dimasukkan kedalam document surrogate biasanya dipertimbangkan karena berguna untuk pengguna. Contohnya, tanggal membantu pengguna untuk menentukan rentang waktu dan kelayakan sebuah dokumen.

Kata-kata dan frase yang penting, unit deskriptor seperti abstrak , ekstrak, dan tinjauan (review) dari dokumen menyediakan data tambahan yang berguna untuk pengguna yang membutuhkan informasi dan perancang sebuah sistem informasi.

Untuk mengembangkan sebuah document surrogate data lain yang harus disertakan adalah data numerik, deskripsi dari citra/gambar, dan data spesifik lainnya yang ada pada sebuah dokumen.

Isu kunci didalam pengembangan sebuah document surrogate adalah keguanaan atau fungsi dari document surrogate itu sendiri. Kata-kata kunci dan abstrak dianggap cukup berguna untuk karya-karya cetak yang membutuhkan salah satu dari hal-hal tersebut untuk ditampilkan pada sebuah dokumen yang diterbitkan.

Kata kunci (keyword) adalah kata tunggal yang dipilih oleh penulis atau editor untuk mewakili isi dari dokumen. Sama halnya dengan frase kunci (key phrase) yaitu frase terpilih untuk mewakili isi dari dokumen.

Kata kunci dan frase kunci sering diarahkan kepada kebijaksanaan penulis. Oleh karena itu, sementara elemen-elemen data ini harus menunjukkan isi dari sebuah dokumen, mereka juga harus menunjukkan derajat dari variabilitas yang dimiliki oleh sebuah dokumen.

Abstrak adalah laporan singkat yang berisi paragraf singkat yang menjelaskan dan menggambarkan isi dari dokumen.

Ekstrak adalah surrogate buatan yang diciptakan oleh orang lain diluar penulis. Berbagai metode telah disarankan untuk membuat gagasan pada sebuah ekstrak yang terdiri dari kalimat-kalimat atau frase-frase yang diambil dari teks sebuah dokumen.

Review (tinjauan) adalah sama halnya dengan sebuah abstrak yang ditulis oleh orang lain selain penulis. Bagaimanapun, review menyediakan beberapa indikasi nilai dari sebuah dokumen. Dalam hal ini sebuah review tidak menyediakan akses langsung kepada sebuah dokumen tetapi memberikan komentar tentang hal yang ditinjau bersama dengan penunjuk kepada hal yang ditinjau. Review sendiri adalah dokumen terpisah yang bisa di temu balik.

Jika sebuah document surrogate akan digunakan secara internal didalam sebuah endosistem maka data yang akan dimasukkan kedalam surrogate harus memenuhi algoritma yang digunakan sistem untuk memiliki dokumen-dokumen yang sesuai kebutuhan. Jika surrogate document ditampilkan pada pengguna maka surrogate document harus memuat data yang bisa diterjemahkan dan bermanfaat bagi pengguna.

Vocabulary Control (Pengendalian Perbendaharaan Kata)

Lamanya perdebatan tentang perbedaan antara query dan dokumen sejalan dengan isu-isu tentang pengendalian perbendaharaan kata yang disediakan bagi pengguna sistem. Kontrol pada proses pencarian informasi lebih mudah untuk dijalankan dengan merancang sistem temu balik yang hanya mengenali beberapa istilah dan menginformasikan kepada pengguna bahwa hanya istilah-istilah tersebut yang bisa digunakan. Hal ini tentu saja berpengaruh pada proses temu balik.

Pendapat terkuat untuk controlled vocabulary (Perbendaharaan kata terkontrol) adalah hal ini menjalankan sebuah keseragaman pada seluruh bagian sistem temu balik dan membuat proses pencarian dan temu balik lebih efisien. Controlled vocabulary menekankan konsep-konsep yang sama tetapi sedikit berbeda untuk diperlakukan secara sama.

Ada dua pendapat berbeda tentang controlled vocabulary. Pertama, menekankan kepada pengguna dengan adanya controlled vocabulary menghilangkan kemampuan pengguna untuk melihat informasi secara detail. Kedua, sementara dokumen di temu balik dengan cepat kebanyakan dari dokumen-dokumen tersebut memiliki keluasan dari dokumen yang ditandai.

Mereka yang mengemukakan pendapat tersebut yakin bahwa kompleksitas yang ditambahkan pada pencarian dengan uncontrolled vocabulary adalah harga yang kecil untuk menambah presisi dalam temu balik dokumen sesuai kebutuhan informasi.

Banyak sistem temu balik komersial lebih memilih untuk menggunakan uncontrolled vocabulary daripada harus menghadapi pengguna yang frustasi untuk memilih istilah yang tepat sesuai kebutuhan informasi mereka.

Struktur Murni Data

Secara historis, representasi dari item data atomis, yaitu item yang tidak bisa diuraikan kembali menjadi bagian-bagian kecil, telah melalui sebuah periode standarisasi. Struktur murni dari data terdiri dari format penyandian data di dalam sebuah sistem temu balik informasi.

Standar untuk penyandian data menyediakan landasan untuk pengintegrasian dan penanganan data yang lebih mudah dari berbagai sumber. Sama halnya, bahasa pemrograman dan standar praktis yang dikembangkan dengan basis seperti FORTRAN, Pascal, dan C mungkin tidak akan sesuai untuk bahasa pemrograman yang berorientasi pada objek.

Sistem komputasi terdahulu menggunakan set karakter terbatas berdasarkan pengkodean. Set karakter ini termasuk huruf besar, angka-angka, dan tanda baca, serta beberapa karakter khusus.

Dua sistem penyandian (encoding) utama dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan text processing (pengolahan teks). Baik EBCDIC (Extended Binary Coded Decimal Information Code) maupun ASCII (American Standard Code for Information Interchange) dibuat berdasarkan penggunaan sebuah byte untuk memproses sandi dari data atomis.

Sebuah byte terdiri dari 8 bit data. Semenjak setiap byte boleh memiliki 2 pernyataan, 0 dan 1 atau “off” dan “on”, 1 byte mampu menampilkan 2 atau 256 karakter, ini membolehkan representasi dari huruf-huruf besar atau kecil, angka-angka, dan karakter khusus.

Selama beberapa tahun, ASCII menjadi standar untuk penyadian teks. Kode ASCII hanya menggunakan 7 dari informasi yang diberi nama kode 1 sampai 127. kode-kode ini terasuk huruf besar dan huruf kecil, angka-angka, tanda baca, beberapa karakter khusus, dan non-printing control codes (kode-kode kontrol tak tercetak).

Standar untuk kode-kode yang telah ada terus dikembangkan namun tidak diterima secara penuh. Microsoft Windows menggunakan ANSI (American National Standard Institute) yang merupakan kepanjangan dari kode ASCII dan juga kode RTF (Rich Text Format). Sebagai tambahan, untuk beberapa set karakter setiap sistem word processing (pengolah kata) memiliki set kode-kode masing-masing untuk mengindikasikan fungsi pengolah kata, termasuk spasi, batas garis halaman, tanda penghubung, karakteristik huruf, dll. Tidak adanya standarisasi didalam hal ini disebabkan oleh program konversi yang berlebihan karena pengembang dari setiap sistem mencari kompatibilitas dengan sistem lainnya tanpa meninggalkan kode khusus milik mereka sendiri.

Kebanyakan sistem pengolahan kata saat ini menyediakan konversi dua arah antara kode-kode mereka dengan standar kode ASCII. Beberapa lainnya juga menyediakan fasilitas konversi langsung. Proses konversi seperti itu mungkin tidak akan berjalan sempurna karena adanya beberapa pengabaian dan kesalahan penerjemahan dari beberapa karakter.

Kompresi Data

Dengan bertambahnya penekanan pada basis data full-text, masalah yang dihadapi untuk menangani kuantitas data menjadi sangat penting. Waktu yang dibutuhkan untuk mencari informasi pada sebuah basis data sangat tergantung pada jumlah dari data yang ada.

Untuk operasi sistem informasi yang efisien sangat membutuhkan kedua hal ini yaitu, pengorganisasian data yang baik dan kemungkinan untuk menemukan representasi dari data yang lebih efisien.

Maka dari itu, berkembanglah sebuah ketertarikan untuk menggunakan proses kompresi data. Masing-masing wakil dokumen mewakili hilangnya beberapa data dari dokumen aslinya. Karena wakil dokumen ini berguna bagi pengguna maka data-data yang hilang tadi tidak jadi masalah.

Bagaimanapun, pengguna mungkin tidak merasa yakin apakah wakil-wakil dari dokumen menampilkan informasi yang relevan dan hilangnya beberapa informasi mempengaruhi keefekifan dan efisiensi dari sistem informasi.

Salah satu teknik kompresi yang biasa digunakan adalah stemming, yaitu penghilangan sufiks-sufiks tata bahasa, mengkonversi sebuah set kata-kata yang berhubungan menjadi bentuk dasarnya. Dengan pengurangan seprti ini maka akan menambah ruang penyimpanan basis data sebesar 30% dari isi informasi.

Ada dua keputusan awal yang harus dibuat mengingat kuatnya pengaruh data yang dikompresi. Salah satu pilihan untuk hal ini adalah tingkat kompresi. Kompresi bisa dilakukan pada tingkat karakter atau tingkat kata. Metode kompresi bisa dikembangkan pada basis frekuensi dari kata-kata dan frase-frase. Keuntungan dari kompresi ditingkat karakter adalah set karakter yang ditangani relatif kecil. Sedangkan keuntungan dari kompresi pada tingkat kata adalah proses kompresi berjalan lebih cepat dan lebih efektif.

Pilihan kedua adalah jenis dari model data yang digunakan. Semua teknik kompresi teks secara esensial berdasarkan pada distribusi stastistik dari objek yang dikompresi, baik itu karakter-karakter atau kata-kata. Konsep dasarnya adalah kode kompresi yang pendek dan efisien harus digunakan untuk simbol-simbol yang muncul secara frekuentif.

Ada dua jenis utama dari model data. Model statis dan model adaptif. Model statis dibuat dengan memeriksa sampel teks dan membangun tabel statistik yang mewakili sampel tersebut. Model ini digunakan untuk seluruh bagian teks yang akan dikompresi.

Model adaptif dimulai dengan sebuah prioritas distribusi stastistik untuk simbol-simbol teks tetapi memodifikasi distribusi tersebut kedalam setiap karakter atau kata yang dibuat sandi (encoded). Model adaptif harus menjadi sebuah representasi tertutup dari sifat statistik pada teks yang spesifik didalam basis data.

Model ketiga diluar kedua model tersebut yaitu model semi-statis, yang merupakan gabungan dari kedua jenis model utama diatas.

Tipe-tipe berbeda untuk model-model data memiliki beberapa efek pada proses kompresi. Pertama, semenjak model-model statis melibatkan sedikit proses komputasi maka model-model stastis tersebut menyediakan kompresi dan dekompresi yang lebih cepat. Kedua, sejak model-model adaptif memenuhi teks aktual secara lebih dekat, maka model-model adaptif ini menyediakan tingkat kompresi yang lebih tinggi. Ketiga, sejakfungsi dari model-model adaptif bergantung pada analisis dinamis pada teks selama kompresi, interpretasi kode hanya berjalan setengahnya. Hal ini berarti ada satu bagian yang tidak bisa menerjemahkan kode.

Ada tiga jenis kode yang biasa digunakan dalam proses kompresi teks, yaitu Huffman Codes, Ziv-Lempel Codes, dan Arithmatic Codes. Huffman Codes merupakan sebuah kode statis yang biasa digunakan pada model kompresi data semi-statis. Ziv-Lempel Codes memiliki tingkat kompresi yang lebih besar dari Huffman Codes. Ziv-Lempel Codes sendiri merupakan model pengkodean adaptif.

Jenis terakhir adalah arithmetic coding (pengkodean aritmatik). Pada metode ini, aliran teks diwakili oleh angka yang menggambarkan distribusi frekuensi stastistik dari simbol-simbol. Distribusi stastistik ini kemudian dirubah seperti pada pengkodean teks. Distribusi mengendalikan kalkulasi dari angka yang mewakili teks, yaitu 0 dan 1. Metode ini memberikan kompresi yang lebih tinggi.

Dokumen Teks

Porsi terbesar dari data dalam kebanyakan dokumen terdiri dari pernyataan-pernyataan atau teks yang tertulis dengan beberapa bahasa alami. Gambaran dasar dari teks adalah karakter, termasuk tanda baca, spasi, dan konversi tulisan yang memberi struktur lebih pada teks.

Syntax dan semantik dari kalimat atau paragraf digunakan untuk menentukan apakah hal ini memenuhi kebutuhan informasi. Sistem temu balik informasi yang ada saat ini sering menggabungkan beberapa petunjuk linguistik kedalam sistem pengolahan data untuk satu tujuan yaitu mencocokkan teks kepada query.

Markup Languages adalah salah satu alat yang tersedia untuk menerjemahkan sebuah dokumen teks. Bagaimanapun, ketika markup language disimpan bersama dokumen, maka akan menyediakan nilai berharga sebagai petunjuk untuk temu balik informasi.

Bahasa markup yang sering digunakan adalah SGML (Standard Generalized Markup Language). Bagian dari SGML disebut HTML (Hyper Text Markup Languange) yang biasa digunakan untuk membuat sebuah halaman web untuk World Wide Web.

Pada sebuah dokumen, seringkali diminta segmentasi. Segmentasi adalah identifikasi dari berbagai bagian tekstual dan non-tekstual dari sebuah dokumen. Banyak dokumen berisi elemen-elemen grafis seperti tabel dan gambar. Dalam penerjemahan dokumen sangat penting untuk mengenali elemen-elemen non tekstual.

Teknik yang digunakan pada segmentasi adalah penempatan indentasi dan penggunaan karakteristik grafis untuk membantu membedakan dan memisahkan teks dari gambar dan tabel.

Gambar dan Suara

Ada empat standar yang telah dikembangkan untuk kompresi gambar. CCITT telah mengeluarkan standar dalam pengiriman faksimili yang berdasarkan pada run length encoding. Dan juga bisa diencode dengan menggunakan arithmathic coding.

Tiga standar lainnya dikembangkan berdasarkan kepada context encoding. JBIG atau Joint Bilevel Experts Group dikembangkan untuk ambar bilevel (hitam dan putih) dan grayscale yang biasa digunakan pada dokumen-dokumen faksimili dan beberapa terbitan ilmiah.

JPEG. Joint Photographic Experts Group bisa digunakan untuk gambar berwarna dan grayscale. JPEG dikenal sebagai standar pengkodean umum dibandingkan dengan JBIG.

MPEG. Moving Picture Experts Group, diadaptasi dari kebutuhan dunia mulitimedia. Termasuk standar untuk pengkodean animasi dan gerakan (motion) serta suara.

Basis data suara tetap berada pada masa pertumbuhannya dan kurang berkembang dibandingkan basisdata gambar. Hal ini diakibatkan oleh kecenderungan untuk lebih memusatkan diri pada proses transmisi suara daripada proses temu baliknya.

MIDI (Music Instrument Digital Interfaces) adalah metode yang umum digunakan untuk pengkodean suara. Untuk perluasan dari data yang berupa gambar dan suara yang ditangani melalui textual surrogates, struktur tekstual data dan teknik pemrosesan yang sesuai harus digunakan.

(Tugas Mata Kuliah Information Retrieval, disarikan dari buku “Information Storage & Retrieval” by Robert R. Korfhage)

Catatan Pertemuan dan Sebuah Kitab Omong Kosong

Bung, lama rasanya saya tidak menyurati anda. Saya kira anda sedang sibuk ya. Oh ya, saya baru ingat kalo anda sedang berada di luar negeri, tepatnya di Inggris sana, nonton opening ceremony English Premier League. Wah, anda masih suka sepakbola toh. Salut. Anda tonton match yang mana? Newcastle vs United? Atau anda malah berada di Stamford Bridge, atau di Emirates Stadium. Saya tunggu saja kiriman fotonya bung, sebagai bukti kalau anda benar-benar ada disana.

Begini Bung. Suatu malam saya berkenalan dengan seorang Bule dari Jerman, Michael namanya (jadi teringat Michael Ballack). Dia datang dari Jakarta dua hari yang lalu. Rupanya dia diundang untuk menjadi pembicara dalam suatu forum yang membahas tentang Arsitektur. Banyak yang kami ceritakan terutama mengenai dunia perpustakaan di Jerman dan di Indonesia, negeri kita ini Bung.

Perbincangan kami makin menarik terutama ketika saya menunjukkan Jalan Braga tempat dimana banyak gedung lama dengan arsitektur masa art deco. Walaupun bahasa inggris saya tidak terlalu bagus rupanya dia sangat antusias dengan cerita saya. Apalagi waktu dia bercerita tentang keadaan perpustakaan di negerinya BMW itu.

Staat Bibliotheek, bahasa Jerman dari Perpustakaan Milik Negara atau yang dikelola negara dan bisa berada di daerah (semacam Bapusda). Dia bilang, “library is a part of our daily life, even politicians made decisions after they’re going and find something in library.” Wow. Amazing sekali bukan, “part of our daily life…” bagian hidup sehari-hari. Mungkin saja, karena itu pula Pak Habibie Sang Teknokrat produk Bavaria yang kurang lebih sekelas dengan Mercedes-Benz buatan Stuttgart itu mendapatkan predikat summa cum laude(IPK = 4) waktu sekolah dulu. Anda tahu itu kan Bung, walau pun anda cuma magna cum laude? Pertanyaan besarnya bukan itu, tetapi sudahkah kita seperti itu? Dimana perpustakaan menjadi bagian dari gaya hidup kita. Saya kira kalau cuma perpustakaannya saja secara fisik itu sulit. Tapi, apa yang perpustakaan punya dan bisa disebarkan pada masyarakat itulah yang akan lebih bermanfaat. Dan rasanya tidak salah bila itu menjadi tanggung jawab pustakawan, ya kan Bung?

Nah, bagaimana menurut pendapat anda sendiri. Saya yakin bukan hanya pustakawan saja yang harus melakukannya, tetapi juga peran masyarakat juga diperlukan, tinggal bagaimana kita meng-encourage mereka untuk memberikan nilai tambah pada kehidupan mereka sendiri dengan datang ke perpustakaan atau malah membaca buku yang mereka sukai.

Anda tentu suka baca kan Bung? Waktu saya ke rumah anda waktu itu saya lihat anda sedang membaca Kitab Omong Kosong dari Seno Gumira Ajidarma. Anda sudah sampai pada pertengahan cerita, yang seingat saya Rama dan Sinta sudah moksa dan Maneka dan Satya sedang melanjutkan perjalanan mencari Hanoman yang sedang bertapa. Saya pikir Kitab Omong Kosong adalah sebuah kumpulan omong kosong layaknya janji-janji calon wakil rakyat yang sekarang nongkrong di DPR. Ternyata tidak, buku itu juga memberi pencerahan tentang bagaimana seorang negarawan harus bersikap pada rakyatnya, lalu apakah kejahatan harus dibalas dengan kejahatan pula, apakah cinta dan kekuasaan adalah hal yang terlarang, dan masih banyak lagi.

Nah, bayangkan saja seandainya masyakarat kita mau membacanya atau minimal mereka mau mendengarkan juru cerita tentu kita bisa mengambil hikmah dibalik cerita yang cuma omong kosong itu. Kita terlalu sibuk untuk itu Bung, yang kita pedulikan hanyalah BBM yang harganya naik, Susahnya nyari LPG (baca: elpiji), gosip artis hari ini, siapa pemenang kontes instan ini, harga komoditas yang semakin membungkam mulut ibu rumah tangga kala berhadapan dengan tukang sayur keliling, dan masih banyak lagi tak terkecuali rencana pemerintah menaikkan gaji PNS pada Januari 2009. Semua itu lah yang mengisi pikiran kita hingga kadang-kadang kita lupa untuk memikirkan isi hidup kita sendiri. Bila memang masyarakat kita sudah sampai pada tahap ini, saya yakin kita tidak perlu lagi berteriak lantang untuk mensosialisasikan larangan korupsi, kita tidak perlu lagi berselisih pandang tentang pelaksanaan hukuman mati, tidak perlu lagi bertentangan pendapat hingga saling berebut kekuasaan. Saya optimis, Anda Bung?

Salam dari Bukit,

Bukit Pakar Timur 100, 23 Agustus 2008, 15.48

NB: Anda masih mau lanjut baca kitab itu kan?

Lihat Sekitar Kita

Sore,

Bung, mungkin anda sudah pulang ketika tulisan ini siap untuk diposting. Tapi tak apa, Bung bisa main lagi kemari esok hari. Begini Bung, sore ini saya membaca sebuah katalog punya Pak Naryo. Sebuah katalog pameran petani di Yogyakarta. Bung, pernah dengar Rumah Seni Cemeti yang digagas seorang Londo bernama Mbak Mella Jaarsma. Saya yakin anda tahu, katanya anda sempat dikirimkan kursus singkat di UGM ya.

Itulah sebuah contoh bagaimana hubungan keberadaan sebuah lembaga ruang publik dengan masyarakat disekitarnya. Saya kira cuma seniman saja (atau calon seniman, atau malah seniman jadi-jadian) saja yang bisa pameran disitu. Ternyata tidak, Bung. Para petani (yang jelas-jelas Rakyat!) justru menampilkan semua yang mereka bisa. Ada art performance, maupun karya-karya lainnya.

Bagaimana dengan Perpustakaan yang sedang Bung pimpin? Apakah pernah perpustakaan anda mengajak orang-orang di lingkungan sekitar untuk berpartisipasi-walau hanya sekedar melihat-lihat koleksi yang (lagi-lagi) katanya bersumber dari anggaran negara? Apakah bung pernah memfasilitasi mereka untuk mendapatkan bacaan dan sumber informasi yang menjadi haknya? Atau malah anda tutup mata akan keberadaan mereka di sekitar anda? Waduh, kalau begitu ada yang salah.

Namun, sepenuhnya bukan salah anda Bung. Perpustakaan anda kabarnya berada di kawasan CBD (Central Business District). Saya belum pernah kesana jadi belum tahu pastinya. Bung, pasti belum sadar kalau di kawasan sekitar situ di huni oleh berbagai tingkatan kelas. Mulai General Manager, Manager, Eksekutif, Supervisor, dan Staf. Kenapa Bung tidak mengajak mereka untuk sekedar menumpahkan mumetnya isi kepala akibat tekanan stress dan tuntutan pekerjaan.

Ajaklah mereka sekali-kali. Buatkan pameran seni atau sekedar Lomba Menulis Bebas. Maka nanti Bung tak akan lagi heran ketika membaca sebuah tulisan dari seorang staf yang sangat membenci atasannya-dan ingin membunuhnya hanya karena atasannya terlalu kaku. Atau, catatan seorang General Manager yang kepincut sama stafnya yang janda itu hanya karena dia berparfum Obsession dari Calvin Klein. Hahaha. Itu cuma intermezzo saja. Jangan dianggap terlalu serius.

Bagaimana Bung, apakah anda sudah siap untuk melihat di sekitar kita? Saya kira anda siap dan bisa melakukannya. Bukankah Bung pernah menulis tesis tentang Sosiologi Masyarakat Perkotaan dan Hubungannya dengan Perpustakaan Sebagai Ruang Publik yang telah diuji sehingga Bung mendapat gelar master dengan predikat magna cum laude. Mbak Mella saja yang bukan asli bangsa kita mampu dan berani melakukannya, dan hebatnya pada sekelompok petani, bukan kalangan menengah baru itu, karena hakikatnya seni adalah untuk semua orang. Anda juga tahu informasi adalah hak semua orang kan?. Jadi anda tidak perlu membatasi aksesnya kan?. Semoga anda mau berbuat. Demi kepentingan kita semua. Demi kepentingan Bangsa ini, Bung. Semoga anda mau melihat sekeliling anda Bung. Semoga tirai di Mercy yang anda pasang kemarin tidak menghalangi niat baik anda***). Semoga.

Salam dari Bukit,

Bukit Pakar Timur 100, 14 Agustus 2008, 16.45 WIB

NB: Saya juga mau jadi petani, setiap pagi mengawasi sawah dan kebun naik helikopter kaya Sukab**)


*) Judul tulisan ini mirip dengan judul lagu Krakatau, Lihat sekitar kita. Muncul juga di album Base Jam, Sinergi.
**) Catatan singkat tentang Sukab, di Surat Dari Palmerah, Seno Gumira Ajidarma, KPG, 2002
***) Saat ini, banyak sekali mobil yang dipasangi tirai-terutama di kota besar, setelah booming kaca film, e
ntah karena privasi atau sinar matahari yang memang semakin menyilaukan

Internet dan Laptopisme

Internet dan Laptopisme

Bagi anda yang sudah tidak asing lagi dengan dunia maya mungkin anda masih ingat dengan berapa alamat e-mail yang pernah anda buat, berapa blog yang anda miliki, foto-foto yang diupload ke friendster, berapa jumlah milis dan newsgroup yang pernah atau sedang anda ikuti, maupun aktivitas lainnya yang bisa dilakukan di internet (browsing, hacking?!!!;….) walau Cuma sekedar ikut-ikutan atau memang mungkin anda memerlukannya.

Untuk anda yang aktif di milis, memiliki blog, account di friendster mungkin anda memerlukan lebih dari sekedar ikut-ikutan. Artinya, anda juga turut menggunakannya karena anda memang memerlukannya sebagai media untuk eksistensi-aktualisasi-ekspresi diri, berbagi informasi, mengikuti perkembangan terkini, maupun sekedar mengembangkan hobi menulis dan menuangkan pikiran ke dalam sebuah tulisan.

Perkembangan teknologi informasi dan komputer yang semakin berkembang saat ini menuntut penggunanya untuk memiliki mobilitas akses yang tak terbatas terhadap hal tersebut. Untuk itu, diperlukan suatu perangkat mobile yang mampu menangani semua keinginan itu.

Laptop. Kenapa harus laptop? Ya, karena gadget yang satu ini merupakan perangkat yang bisa melakukan semual hal itu dengan praktis. Untuk anda yang tidak memiliki koneksi internet di tempat aktivitas anda (sekolah, kampus, kantor) tentunya anda akan menggunakan warnet untuk mengakses internet.

Lain halnya bila anda memiliki sebuah laptop. Anda tidak perlu repot-repot mengantri dan berinternet ria di ruang sempit yang ada di warnet. Anda cukup jalan-jalan ke sebuah mall atau pusat perbelanjaan/bisnis yang memiliki fasilitas hot-spot. Nyalakan laptop dan buat koneksi ke Wireless LAN yang tersedia di tempat tersebut. Mudah bukan?

Kemajuan teknologi pun membuat kehidupan manusia semakin mudah dan praktis. Bila ditarik korelasi antara internet dan laptop maka akan tampak suatu hubungan yang saling berkaitan.

Internet kini telah menjadi media eksistensi-aktualisasi-ekspresi bagi sebagian orang. Maka tak heran apabila kini bermunculan situs-situs seperti itu. Lihat saja friendster, multiply, blogger, wordpress, dll, yang menawarkan berbagai fasilitas eksistensi-aktualisasi-ekspresi individu.

Namun, kendalanya adalah tidak semua orang mempunyai akses, waktu, dan biaya yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya tersebut. Oleh karena itu, solusinya adalah dengan menyediakan fasilitas Wireless LAN yang dipancarkan melalui titik-titik hot-spot dan untungnya beberapa penyedia layanan ini membebaskan penggunanya dari biaya akses.

Nah, karena boleh dibilang ‘masih gratis’ maka bagi pengguna internet yang menginginkan fasilitas tersebut harus memiliki laptop. Mahal memang, tetapi itulah harga yang harus dibayar untuk pemenuhan satu kebutuhan personal individu.

Namun bukan hanya itu saja faktor yang mendorong seseorang untuk memiliki laptop/notebook. Beberapa faktor lainnya yang perlu diperhatikan adalah, semakin terbukanya persaingan antar produsen notebook sehingga harga yang ditawarkan ke konsumen pun semakin bersaing. Belum lagi semakin maraknya penjualan laptop bekas yang didatangkan langsung dari negeri asalnya.

Lalu yang sepertinya masih jadi alasan utama untuk beralih dari PC desktop ke laptop adalah fungsi utamanya sebagai perangkat pendukung pekerjaan. Hal ini jelas tidak bisa dipungkiri. Karena bisa dibawa kemana-mana maka laptop menawarkan kemudahan untuk menyelesaikan pekerjaan. Sudah bisa dilihat di ruang perpustakaan skripsi yang penuh dengan mahasiswa yang mengetik dengan menggunakan laptop (bentuk plagiatisme modern….???).

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan adalah, konsumsi daya listrik yang lebih rendah dibandingkan dengan PC Desktop. Dengan harga listrik yang termahal di Asean, pengguna komputer di Indonesia bisa lebih menghemat pengeluaran dengan menggunakan laptop yang memiliki konsumsi daya listrik yang lebih rendah.

Diluar itu semua, menurut penulis masih ada lagi faktor lainnya yang ikut mempengaruhi semakin begairahnya kembali pasar laptop/notebook di negeri ini yaitu suatu ungkapan yang sudah tidak asing lagi di telinga kita lewat ucapan si pembawa acara yang wong ndeso dari Semarang (jangan bilang nggak tau!). Ya, kembali ke …… … … Anda pasti sudah tahu kelanjutannya.

Kehadiran laptop di media pun ikut menaikkan pamor laptop/sebagai pengganti PC desktop. Tidak hanya di acara itu saja. Lihat di beberapa acara infotainment yang memajang keanggunan sang presenter dibalut dengan kemewahan suatu brand laptop/notebook tertentu. Media elektronik terutama televisi telah menjadi medium yang efektif untuk branding sebuah produk laptop/notebook. Ingat teori jarum hipodermik? dengan begitu merk produk tersebut akan berada di top-of-mind khalayak pemirsa televisi.

Dari hasil pengamatan terbatas penulis, hanya dengan uang sejumlah 1,5-7 juta kita bisa memiliki sebuah laptop yang kemampuannya sudah lumayan untuk sekedar mengetik, nonton DVD, bahkan berselancar di internet. Bahkan di beberapa pameran yang telah penulis kunjungi, harga yang ditawarkan untuk sebuah produk baru sudah sebanding dengan manfaat apa yang bisa dapatkan. Contohnya, hampir setiap produk laptop terkini sudah menyertakan fasilitas Wi-Fi yang bisa digunakan untuk koneksi ke internet melalui hot-spot. Memasuki kuartal pertama tahun 2007 ini pabrikan produsen laptop semakin giat dalam melakukan promosi demi meningkatkan volume penjualan.

Namun begitu, terkadang jumlah tersebut belum termasuk lisensi sistem operasi. Sehingga, banyak produsen laptop yang mengindikasikan bahwa produk mereka hanya disertai DOS (disk operating system) tanpa dilengkapi dengan sistem operasi. Solusinya, banyak produsen yang kemudian menggunakan sistem operasi berbasis open-source seperti Linux. Dengan demikian, produsen tersebut tidak perlu repot-repot dengan lisensi sistem operasi.

Untuk anda yang tidak akrab dengan sistem operasi berbasis open-source, anda sudah pasti enggan dan sulit beradaptasi dengan kondisi seperti itu. Apalagi, harga yang dipatok oleh produsen notebook dengan lisensi sistem operasi Windows XP adalah berkisar antara Rp. 9-15 Juta dan untuk Windows Vista Rp.10-22 Juta. Cukup fantastis bukan! Kondisi seperti ini akan membuat software piracy semakin sulit untuk dihindari. Belum lagi program IGOS pemerintah yang masih kurang tersosialisasi dengan baik kepada masyarakat luas.

Untuk mengakhiri tulisan ini, laptop dengan berbagai keunggulan dan kelebihannya memang menawarkan suatu solusi untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Semua kembali kepada kita sebagai calon pembeli, pengguna, maupun sekedar pengamat. Asalkan digunakan dengan bijak dan sesuai dengan fungsinya maka laptop akan membawa manfaat bagi kita entah dalam urusan pekerjaan ataupun hal lainnya.

Lewat tulisan ini penulis memberikan suatu wacana pemikiran yang hanya didukung pengamatan terbatas tentang fenomena yang nampak dewasa ini. Penulis mengajak kepada pembaca untuk ikut berpartisipasi dalam mengembangkan wacana ini sehingga suatu saat kita tidak akan lagi kaget bila harus kembali ke laptop.

“Selamat menikmati bagi anda yang punya dan selamat bermimpi bagi anda yang berharap suatu saat akan memilikinya.”

Pharmindo-Cimahi, 11 March 2007, 18.00

*) Mahasiswa Ilmu Informasi & Perpustakaan UNPAD angkatan 2004. Penikmat, Pengguna dan Pengamat Komputer. Dinyatakan Lulus pada Maret 2008 dengan skripsi berjudul “Faktor-faktor Pendorong dalam Pemilihan Bacaan Komik”