Twitterature

Konektivitas Digital

Dalam lima tahun belakangan ini, bermunculan macam-macam media jejaring sosial. Perkembangannya yang pesat turut membuka akses yang lebih mudah untuk menggunakannya. Hal ini memberikan cara baru kepada kita untuk berinteraksi dengan sesama tanpa terbatasi oleh ruang dan waktu. Media jejaring sosial bekerja sesuai prinsip-prinsip dasar Web 2.0 yang berbasis pada user-centric communication dan user-generated content. Sehingga, isi pesan yang dikomunikasikan bukan lagi mass produced messages yang dibuat oleh media massa secara umum melainkan melalui interaksi dan kolaborasi user (pengguna) di dalam media tersebut.

Pengaruh media jejaring sosial telah mengubah cara kita dalam berinteraksi dengan sesama, bagaimana kita mendapatkan informasi, dan juga turut mempengaruhi dinamika kelompok sosial dan hubungan pertemanan kita. Kini, banyak pengguna internet yang memanfaatkannya sebagai alat sosialisasi.

Media jejaring sosial juga mempengaruhi kita dalam mendapatkan informasi dan berita. Diversi komunikasi dalam media jejaring sosial melalui portal berita berbeda. Dewasa ini, sangat mudah untuk jadi bagian dari suatu media jejaring sosial. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan informasi. Tidak ada batasan tentang apa yang bisa kita peroleh. Kedengarannya seperti hal yang bagus sekarang ini, tapi ini menunjukkan bahwa kebanyakan orang tidak bisa hidup dan menghindar dari media tersebut.

Media jejaring sosial menyediakan perangkat yang bisa digunakan untuk berkomunikasi, saling berbagi dan bertukar informasi, dan menciptakan hubungan-hubungan baru baik dalam kehidupan personal maupun profesional. Dengan popularitas media jejaring sosial yang semakin meningkat dan kemajuan yang pesat dalam perkembangan teknologi komunikasi turut mempengaruhi cara kita dalam berinteraksi sosial

Kemajuan yang pesat juga dialami oleh industri telekomunikasi. Kemajuan tersebut membawa pengaruh yang sangat besar, yaitu dengan terbukanya akses kepada masyarakat untuk lebih dapat menikmati fasilitas teknologi komunikasi. Kemudahan akses juga menyebabkan perubahan yang signifikan dalam pemanfaatan teknologi komunikasi. Walaupun internet mampu menghubungkan jutaan manusia dan telah mengubah metode percakapan tradisional yang sudah sering kita lakukan, melalui tatap muka langsung misalnya. Perubahan dalam interaksi sosial ini tidak selalu positif atau negatif. Perubahan ini mengembangkan beberapa medium berbeda yang memungkinkan kita untuk berkomunikasi dan selama kita masih bisa bertatap muka langsung dalam kehidupan sosial kita sehari-hari, kita bisa mendapatkan keseimbangan diantara keduanya.

Sebagai bagian dari Web 2.0, media jejaring sosial berpengaruh terhadap cara kita berinteraksi dengan sesama melalui perubahan dalam dinamika kelompok sosial dan pertemanan. Media jejaring sosial turut menyumbang devaluasi dalam nilai pertemanan. Nilai-nilai hubungan tradisional yang berkaitan dengan kepercayaan dan dukungan. Media jejaring sosial menciptakan model baru dalam interaksi sosial dan pertemanan. Seiring dengan pertumbuhan lingkar sosial masyarakat, hubungan pertemanan digital tidak sekuat ikatan pertemanan tradisional di dunia nyata. Walaupun mampu membedakan dinamika pertemanan yang demikian itu, media jejaring sosial membantu kita menciptakan hubungan pertemanan yang baru dan menambah interaksi sosial.

Banyak efek yang ditimbulkan oleh media jejaring sosial baik positif maupun negatif. Tidak ada tuntutan untuk fokus terhadap efek negatif maupun efek positif media jejaring sosial. Hal itu bergantung kepada penggunaan media jejaring sosial itu sendiri, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat sekitar, dan keduanya tentu saja berbeda untuk masing-masing orang.

Twitter dan Sastra

Twitter memungkinkan penulis untuk menjelajah ruang yang lebih luas dalam imajinasi pembacanya. Twitter mampu menghadirkan tokoh-tokoh rekaan penulis menjadi entitas yang hidup. Twitter menghidupkan kembali tokoh-tokoh fiktif ciptaan penulis untuk kemudian menjadi anasir yang nyata. Tokoh-tokoh yang semula hanya mampu diimajinasikan pembaca melalui teks bacaan kini menjadi realitas yang memiliki wujud dan entitasnya sendiri. Demikian adanya sehingga tidak terlalu salah untuk mengambil kesimpulan dan menyebutnya sebagai “Twitterature”. Gabungan dari kata “Twitter” dan “literature” yang membentuk makna sebagai sebuah “New Creative Outlet”.

Twitterature adalah istilah yang pertama kali dipopulerkan lewat majalah TIME (http://content.time.com/time/magazine/article/0,9171,1993863,00.html). Dalam artikel di halaman web Majalah TIME, twitterature diartikan bebas sebagai satu usaha untuk menghidupkan kembali penulis, tokoh-tokoh rekaan ciptaan penulis, hingga isi dari karya mereka, ke dalam suatu bentuk realitas. Kenyataan tersebut mendorong munculnya penggunaan istilah ini untuk merujuk pada suatu karya sastra yang dimunculkan kembali melalui Twitter dan merujuk pada karya aslinya. Sejarah sastra adalah juga tentang penggunaan media itu sendiri. Sejak ditemukannya papirus hingga media sosial berbasis teknologi web seperti dewasa ini.

Sangat memungkinkan untuk menghidupkan kembali karya-karya penulis-penulis terkenal seperti Pablo Neruda, Ernest Hemingway, maupun Shakespeare. Proses menghidupkan kembali yang dilakukan oleh sekelompok orang melalui akun Twitter dengan nama para penulis itu. Karya-karya mereka kemudian direproduksi kembali menjadi twit yang hanya 140 karakter itu. Hal yang tentu menimbulkan beragam reaksi dari pembacanya. Sebagai pembaca sastra, Twitterature tentu sangat membantu mereka untuk mengobati kerinduan atas karya-karya penulis hebat itu.

Di Indonesia sendiri, dalam pengamatan yang masih terbatas, sudah terbit beberapa buku yang mencirikan hal tersebut (Twitterature). Awalnya, Kicau kacau penulis galau si Indra Herlambang, kumpulan @sajak_cinta, twittit Djenar Mahesa Ayu, and now Twivortiare. Realitas fiksi semakin diuji ketika tokoh2 fiktif itu dihidupkan. AFAIK, @alexandrarheaw did it well. Menghidupkan tokoh fiksi dari Twivortiare sehingga menarik pengalaman pembaca untuk benar-benar terlibat dalam dunia fiksi yang dibangun oleh frame set and field of experience dari Divortiare-Twivortiare. Ini menandakan babak baru dalam kehidupan sastra Indonesia.

Konektivitas digital telah mengubah cara kita dalam berkomunikasi. Komunikasi yang sederhana kini menjadi lebih kompleks dengan hadirnya media jejaring sosial. Media yang tumbuh pesat karena pada dasarnya mengakomodir kebutuhan dasar manusia yang berhubungan ego, emosi, dan eksistensi. Pemenuhan kebutuhan akan afeksi, rekognisi, dan apresiasi turut menjadikan media jejaring sosial sebagai suatu fenomena. Terutama bila dihubungkan dengan dampak yang ditimbulkannya. Sudah banyak kita saksikan Revolusi Sosial yang terjadi di beberapa negara Timur Tengah. Hal itu menunjukkan efektivitas dari media tersebut.

Komunikasi yang sejatinya adalah proses personal. Suatu proses penyampaian pesan dari individu kepada individu lainnya melalui suatu medium kini kembali menjadi lebih personal. Media sosial seperti Facebook dan Twitter adalah contohnya. Lewat medium tersebut, setiap individu bebas berkomunikasi dan berinteraksi dengan siapa saja, dengan yang dikenal ataupun tidak dikenal sekalipun. Seperti apa yang dikonsepkan dalam Web 2.0.

Belum lagi kehadiran media sosial yang lebih spesifik terhadap satu topik tertentu. LinkedIn misalnya, yang menghubungkan individu dengan individu lainnya berdasarkan aktivitas profesional mereka. Lihat juga, Goodreads dan Flixster. Goodreads adalah semacam ‘surga’ kecil bagi pecinta dan penikmat buku. Mereka bisa berjejaring dengan dunia perbukuan melalui apa yang mereka baca. Sedangkan Flixster bekerja hampir mirip dengan Goodreads. Hanya saja, Flixster menggunakan film sebagai objeknya.

Kehadiran media sosial membawa kita pada konektivitas global. Dimana ruang dan waktu tidak lagi menjadi hambatan untuk saling berinteraksi. Jarak hanyalah tinggal hitungan angka-angka belaka. Ketika mulai tergantikan oleh media-media komunikasi alternatif.

Kehadiran media sosial tidak hanya berdampak pada perubahan cara berkomunikasi. Perubahan juga nampak pada dunia sastra. Interaksi antara penulis, pembaca, dan penerbit menjadi lebih personal. Media sosial menjadi sarana dokumentasi yang efektif bagi para penulis untuk menyalurkan idenya. Dengan kemampuannya yang demikian itu, media sosial dengan segala kompleksitasnya menjelma menjadi mesin rekam berkemampuan super. Proses termu balik yang terjadi melalui sosial media membuat siapapun tidak akan pernah kehilangan jejaknya di dunia maya.

Twitter telah menjelma menjadi alat komunikasi yang efektif. The communication is getting personal (again). Twitter juga telah bertransformasi menjadi sarana dokumentasi yang efektif. Fenomena ini bukan isapan jempol belaka. Bahkan, fenomena ini akan bertahan setidaknya untuk lima tahun ke depan.

Tidak heran apabila Twitter adalah tren yang happening saat ini. Semua orang ingin tahu. Semua orang ingin menggunakannya. Semua orang ingin eksistensinya diakui.

Twitter juga seakan menghidupkan tokoh-tokoh dalam karya fiksi. Contoh: @alexandrarheaw, @harrisrisjad, @lupustwit @luluadiklupus. Twitter menambah semarak khazanah jagad sastra Indonesia. Twitter menjadikan batas antara fiksi dan fakta sedikit membias. Ketika fiksi dihadirkan dalam bentuk virtual yang menyerupai kenyataan. Personifikasi fiksi dalam realita membentuk wujudnya sendiri. Twitter membuat para tokoh fiktif itu seakan hidup. Mereka hidup tanpa kehilangan sedikitpun karakter dari cerita fiksi itu sendiri.  Mereka benar-benar ada. Mereka akan tetap hidup dan terus tumbuh layaknya makhluk non-fiktif.

Sastra sendiri, dimana lebih banyak hidup dalam pikiran pembacanya menyediakan ruang untuk itu. Ruang imajinasi seluas-luasnya untuk menjelajahi petualangan alam pikiran. Sastra tidak menutup kemungkinan bagi pembacanya untuk mengalami sendiri pengalaman menikmati fiksi dalam realita. Apakah sama bedanya antara fiksi yang dihidupkan dalam kenyataan?

Gairah dalam penciptaan karya sastra membutuhkan media dokumentasi yang baik, aksesibel, dan efisien. Utamanya, bukan karena masalah karya itu sendiri melainkan alasan dokumentasi. Dokumentasi yang menjadikan sebuah karya itu ada dan bisa diapresiasi khalayak. Dokumentasi pikiran, itulah alasan utama. Sekali lagi, karena sastra hidup dalam pikiran dan juga dihasilkan dari pikiran penulisnya.

Sebagai contoh, karakterisasi Beno dan Alexandra dalam Twivortiare. Twivortiare sendiri merupakan sekuel dari Divortiare. Penggemar karya-karya Ika Natassa tentu akan mampu untuk meresapi perbedaan diantara keduanya. Istilah “Twitterature” pun pertama kali saya dapat dari bagian pembuka Twivortiare.

Karakterisasi yang dimaksud adalah bagaimana tokoh Alexandra dan Beno yang secara faktual telah hidup melalui teks (Divortiare) bertransformasi dalam personifikasi user di Twitter. Alexandra menjelma menjadi karakter yang ‘hidup’ dan seakan berada dalam lingkungan kenyataan sehari-hari. Personifikasi karakter ini membuat imajinasi pembaca semakin diasah. Pembaca pun dibuat penasaran dengan kisah-kisah selanjutnya karena Alexandra akan tetap hidup dengan twit-twit yang dibuatnya. Hal ini menjadikan tidak lantas menjadikan ending dari cerita dalam teks (buku Twivortiare) menjadi stagnan. Justru, dengan personifikasi seperti ini penulis mempunyai ruang gerak dinamis untuk eksplorasi tokoh-tokohnya.

Contoh lainnya adalah Lupus. Siapa yang tidak kenal dengan tokoh anak muda yang satu ini. Pemilik rambut jambul kakaktua yang jago ngocol itu. Dalam konteks kekinian, serial Lupus yang hadir kembali di Tabloid Gaul, menyapa kembali pembacanya di Twitter. Siapa yang tidak kangen dengan Anto, Gusur, Boim, dan Fifi Alone. Pembaca setia Lupus pasti sangat merindukan kehadiran mereka. Kini, mereka dapat berinteraksi langsung dengan pembacanya. Interaksi yang berlangsung dalam siklus tersebut membuat tokoh-tokoh rekaan itu menjadi hidup dan seakan-akan memang ada.

Impact lainnya terhadap sastra adalah pengembangan dari dokumentasi karya sastra itu sendiri. Sebagai contoh, Twittit dari Djenar Maesa Ayu. Kumpulan cerpen terbaru yang dikembangkan dari twit-twit sang penulis. Mirip dengan buku kumpulan cerpen 25 Tahun Kahitna. Bedanya, Kahitna menjadikan judul-judul lagu mereka sebagai judul cerpen untuk kemudian dikembangkan oleh penulis-penulis sahabat Kahitna. Sedangkan, Djenar merekonstruksi twit  yang pernah ditulisnya ke dalam suatu bentuk cerpen yang utuh.

Dari beberapa contoh diatas, tidaklah terlalu salah untuk menarik kesimpulan bahwa sastra Indonesia telah mengalami suatu proses dinamika dalam dialektika dengan pembacanya. Kini, suatu karya sastra tidak hanya bersumber pada catatan teks yang tertulis saja (baca: tercetak). Kehadiran media sosial telah mengembangkan sastra itu sendiri. Sehingga, penulis mempunyai ruang jelajah imajinasi serta dokumentasi yang lebih tersusun rapi, dan sangat mudah untuk melakukan penelusuran kembali (retrieval) atas jejak rekam karyanya.

Dengan demikian, kita masih akan berhadapan dengan wacana ini setidaknya dalam lima tahun ke depan. Komunikasi akan berlangsung semakin intens antara pembaca dan penulis. Karya-karya sastra baru akan bermunculan karena kemudahan akses penulis terhadap dokumentasi karyanya di media sosial. Bahkan sangat tidak mungkin suatu saat nanti media sosial itu bertransformasi menjadi karya sastra itu sendiri.

 

April 2012

 

Athenaeum Light 6.0 untuk Perpustakaan Komunitas

Menjadi Pustakawan Sekolah yang Profesional: Sebuah Refleksi

Bonus Pulsa dari Pengguna

Pengunjung perpustakaan yang satu ini sopan sekali. Saya sangat jarang bertemu dengan orang seperti dia. Tiap kali berkunjung selalu mengucap salam kemudian menghampiri saya sambil mengulurkan kedua tangan sambil agak membungkukkan badan. Begitu juga kalau ia bertemu dengan orang lain yang ada di perpustakaan. Sikapnya sama. Sikapnya itu tidak beda ketika ia berjumpa dengan office boy kantor yang biasa nongkrong di garasi. Pak Adang, salah seorang OB di sini, sampai heran.

“Kagum saya mah sama orang kayak gitu. Saha eta teh cep?”

Ia perempuan. Usianya sekitar awal 40 an. Ia pengajar di salah satu kampus di Bandung yg sedang menempuh studi Strata 3 di Unpad. Ia tengah mencari literatur untuk mengerjakan disertasinya. Umumnya buku-buku yang ia cari itu tentang ekonomi, pertanian, modal sosial. Kebetulan beberapa literatur itu tersedia di perpustakaan Akatiga. Sudah lebih dari dua kali ia bolak-balik ke perpustakaan untuk mencari literatur-literatur ini. Setiap kali diminta dosennya untuk mencari literatur, ia menanyakan ke saya tentang buku tersebut.

Dengan berbagai cara, saya selalu berusaha membantu setiap orang yang mencari buku-buku di sini. Jika orang yang datang itu belum tau apa yang dicarinya, biasanya saya tanya penelitiannya tentang apa. Lalu saya merekomendasikan buku-buku yang lazim dipakai dalam penelitian itu. Penelusuran buku, pasti saya bantu. Kadang, jika buku tertentu tidak ada di sini, saya carikan juga di beberapa perpustakaan yang sudah berjaringan dengan perpustakaan Akatiga. Kalau ada, saya kabarkan buku itu pada si pencari. Sesekali, kalau si pencari tidak bisa mengunjungi langsung perpustakaan tersebut, saya pesankan fotokopi buku tersebut ke perpustakaan itu. Selain itu, saya carikan juga buku-buku itu di beberapa toko buku online langganan saya; lalu saya kabarkan ada dan tiadanya. Jika tidak ada di perpustakaan-perpustakaan jaringan dan tidak ada pula di toko2 buku tadi, saya carikan buku elektroniknya. Sekalian saya berikan secara cuma-cuma buku-buku  dan artikel jurnal yang sekira cocok dengan penelitian yg sedang digarap oleh pengguna itu. Saya pikir, sebagai pustakawan,  saya tidak bisa selalu  memberi apa yg diperlukan oleh pengguna. Tapi saya selalu berusaha memberi jalan untuk bagaimana menemukan literatur itu. Pustakawan, menurut saya, harus menjadi bagian dari solusi bagi setiap orang yang datang ke perpustakaan; sekecil apapun solusi itu.

Hal-hal itu pula kurang lebih yang saya lakukan pada si Ibu yang sopan tadi. Dan, entahlah, mungkin ibu itu merasa saya sangat membantunya sehingga berkali-kali ia mengucapkan terima kasih dan maaf. Terima kasih karena sudah membantunya, mohon maaf karena sudah merepotkan saya. Ya, dia selalu merasa merepotkan saya. Padalah bagi saya biasa saja. Karena itu memang pekerjaan saya. Saya digaji untuk melakukan itu. Tapi, sepertinya ucapan terima kasih dan maaf itu tidak cukup menurut ibu itu. Sekali waktu, ia pernah memberikan uang kembalian fotokopi buku senilai beberapa puluh ribu rupiah. Saya menolak. Tapi dia langsung pergi. Kali lain, ia mau memberi uang lagi. Tapi ketika ia masih membuka-buka dompetnya, saya bilang, “Pake uang pas ya bu..” Dia pun memberi uang pas lalu pergi. Beberapa menit kemudian masuk kiriman pulsa beberapa puluh ribu ke hp saya.Disusul sms dari ibu tadi. Dia mengucapkan terima kasih, mohon maaf, juga mohon agar pulsa yg barusan dia kirim  itu saya terima. Saya tidak berkutik. Tidak etis juga kayaknya kalau saya kirim balik pulsa itu.

Ini bukan soal nilai uang atau pulsa yang diberikan pengguna itu. Dalam soal harta, saya sudah berkecukupan. Hal lebih penting yang saya dapat dari pengalaman ini mengingatkan kembali bahwa pekerjaan pustakawan bukan pekerjaan cetek. Ia seperti pekerjaan lain; dapat bermanfaat bagi orang yang membutuhkannya. Dulu, di jaman kuliah, hal seperti ini hanya sebatas jargon. Tapi sekarang itu kita alami sendiri.

Salah satu bagian yang saya senangi dalam pekerjaan ini adalah pertemuan-pertemuan dengan para pembelajar seperti ibu itu. Orang-orang yang gigih menuntut ilmu. Saya betah menemani pengunjung-pengunjung perpustakaan hingga berjam-jam. Kami ngobrol soal penelitian yang sedang dia garap. Juga bicara tentang isu-isu lain seputar penelitian itu. Di sini saya juga jadi belajar banyak. Mendapat banyak pengetahuan, juga semangat belajar. Keakraban pun terbentuk antara saya dengan banyak pengguna perpustakaan. Saya tidak ragu untuk mempersilakan mereka menggunakan komputer kerja saya. Kalau mereka perlu e-book, kadang saya biarkan dia cari dan ambil sendiri di komputer saya. Sesukanya. Seorang abang-abang pengguna perpustakaan yang lagi sekolah di Malaysia sangat senang ketika ia mengopi ratusan buku dan artikel jurnal di komputer saya. Ia terkagum-kagum dengan koleksi e-book saya. Ada Marx, Castells, Lefebvre, Giddens, Bourdieu, dan banyak lagi. Dia tidak tahu, bahwa saya sebetulnya tidak tahu buku-buku itu isinya apa.

Dago, 2 April 2012
-Acep

* dikutip dari e-mail seorang sahabat di milis angkatan. Diterbitkan disini guna memenuhi kebutuhan untuk saling mengingatkan.

RDA Pengganti AACR

Resource Description and Access atau RDA resmi menggantikan AACR, setelah mulai di implementasikan tahun 2010 oleh perpustakaan di AS, Inggris, Kanada, Selandia Baru, Australia dan akan menyusul Jerman dan Perancis. Negara-negara lainnya di Asia seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, China masih dalam proses persiapan pengimplementasian sistem ini, mungkin termasuk juga PNRI. RDA dirilis tidak dalam format tercetak seperti AACR tetapi sebagai web-based tools yang didesain untuk kebutuhan dunia digital dan bisa dicustomised sesuai dengan besar-kecilnya perpustakaan, jenis perpustakaan, kebijakan perpustakaan, dll. Meskipun terdapat banyak perubahan signifikan, RDA dibangun di atas fondasi AACR yang telah lama digunakan oleh pustakawan untuk menghasilkan jutaan records di seluruh dunia sejak diterapkan lebih dari beberapa dekade.

Mengapa Harus RDA?

AACR yang selama ini digunakan dibuat berdasarkan pengkategorian jenis bahan pustaka. Dalam AACR ada bab-bab khusus untuk buku, terbitan berseri, sound recording, motion pictures, electronic resources, dll. Struktur masing-masing bab dibuat berdasarkan 8 area yang ada dideskripsikan dalam ISBD. Saat ini, perbedaan jenis pustaka semakin kabur seiring perkembangan teknologi informasi dan multimedia.AACR dikembangkan di era katalog kartu dan banyak terminologi dalam AACR yang digunakan saat ini masih merefleksikan situasi tersebut, seperti misalnya “heading”, “main entry”, dan “added entry”.

Modifikasi istilah sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini dianggap belum cukup untuk menjadikan AACR relevan dengan dunia digital.RDA dibuat berdasarkan model konseptual Functional Requirements for Bibliographic Records (FRBR), Functional Requirement for Authority Data (FRAD), dan Functional Requirement for Subject Authority Records (FRSAR). Model ini merupakan konsep entities, relationship, and attributes atau metadata yang dikembangkan oleh IFLA.Model konseptual dipandang lebih relevan di era informasi saat ini karena dapat membantu memahami domain yang digambarkan. Dalam RDA tugas cataloguer antara lain:

1. Mengidentifikasi dan mendefisinikan hal-hal yang penting (entities)

2. Mengidentifikasi dan mendefinisikan hubungan (relationship) antar entities

3. Mengidentifikasi dan mendefinisikan attribute yang merupakan karakter dari entities.Sebagai contoh untuk relationship antar entities, dalam record RDA cataloguer dapat membuat “The fellowship of the ring” memiliki sequel “the two towers”; atau mendefinisikan Frank Seiberling adalah pendiri Goodyear Tire and Rubber Co.Struktur RDA

RDA dikelompokan menjadi tiga model konseptual:

I. FRBR atau konsep entitas, terdiri dari

A. Work, core elements:

1. Title of work

2. Date of work

3. Place origin of the work

4. Form of work

5. Other distinguishing characteristic of the work

6. Identifier for the work

7. Medium of performance

8. Dll.

B. Expression, core elements:

1. Date of expression

2. Language of expression

3. Content type

4. Identifier for the expression

5. Accessibility content

6. Illustrative content

7. Form of notation

8. Source consulted

9. Status of identification

10. Dll.

C. Manifestation, core elements:

1. Title

2. Distribution statement

3. Manufacture statement

4. Publication statement

5. Copyright date

6. Carrier type

7. Media type

8. Dimensions

9. URL

10. Preferred citation

11. Note

12. Terms of availability

13. Contact information

14. Restriction on use

15. Restriction on access

16. Production statement

17. Digital file characteristic

18. Mode of issuance

19. Frequency

20. Font size

21. Book format

22. Dll.

D. Item

1. Custodial history of item

2. Immediate source of acquisitions of item

3. Item-specific characteristic

4. Dll.

Istilah work, expression, manifestation, dan item adalah untuk memperjelas istilah membingungkan yang ada di dalam cataloguing rules. Misalnya, ketika kita mendefinisikan “buku” sebagai objek fisik yang merupakan kumpulan kertas terjilid, maka RDA menyebutnya sebagai “item”.Ketika kita mengatakan buku sebagai jenis bahan publikasi yang berada di toko buku dan memiliki ISBN, RDA menyebutnya sebagai “manifestation”.

Ketika kita mendapatkan suatu buku yang merupakan penerjemahan atau variasi dari karya seseorang, RDA menyebutnya sebagai “expression”. Dan ketika kita mengatakan buku sebagai konsep isi yang menjadi dasar bagi karya-karya lain dalam berbagai versi bahasa atau ide-ide seseorang dalam sebuah buku, RDA menyebutnya sebagai “work.”Bila didefinisikan lebih lanjut, Work adalah karya intelektual atau artistic seseorang yang masih merupakan entitas abstrak. Misalnya LOTR oleh Tolkien.

Expression adalah realisasi suatu karya dalam format tertentu, misalnya suatu bahasa. Seperti juga Work, Expression masih merupakan konsep abstrak. Manifestation adalah perwujudan fisik dari expression suatu karya. Misalnya seluruh edisi LOTR di edit oleh Harold Bloom dan diterbitkan Roundhouse tahun 2001. Manifestation direpresentasikan dalam bibliographic record. Sedangkan Item adalah eksemplar dari Manifestation, atau biasa yang disebut sebagai copy.

II. FRAD, terdiri dari

A. Persons

1. Name of the persons

2. Fuller form of name

3. Date associated with the the person

4. Identifier for the person

5. Field of activity of the person

6. Profession or occupation

7. Biographical information

8. Language of the person

9. Gender

10. Affiliation

11. Address of the person

12. Place of birth

13. Place of death

14. Place of residence

15. Source consulted

16. Dll.

B. Families

1. Name of the family

2. Place associated with the family

3. Prominent member of the family

4. Hereditary title

5. Familiy history

6. Dll.

C. Corporate Bodies

1. Name of the corporate body

2. Associated institution

3. Identifier for corporate body

4. Corporate history

5. Number of a conference

6. Dll.

III. FRSAR

A. Concepts

B. Objects

C. Event

D. Places

Perubahan siginfikan lain yang ada di RDA jika dibandingkan pendahulunya, AACR adalah RDA mengkonsultasi pengembangan sistem kategorisasi dengan perpustakaan dan penerbit. Kategorisasi ini akan menghapus istilah GMDs dan SMDs yang digunakan dalam AACR dengan menggantinya dengan tiga elemen terpisah : media category, type of carrier, dan type of content.Pada RDA penekanan pada relationships juga diutamakan, antara lain:

1. Kaitan antara entitas kelompok FRBR yang terhubung dengan resource

2. Hubungan antar masing-masing karya intelektual

3. Hubungan antara suatu karya dan penciptanya

4. Hubungan antara persons, families, dan corporate bodies.

Hal ini tentu akan membuat beberapa perubahan dan pasti akan timbul pro-kontra dikalangan Pustakawan itu sendiri. Tetapi yang jelas Pustakawan dan bahkan Mahasiswa Ilmu Perpustakaan harus dapat beradaptasi dengan keadaan/kebijakan yang baru karena seperti yang dikatakan Charles Darwin “bukan spesies yang paling kuat atau cerdas lah yang akan bertahan hidup melainkan spesies yang paling dapat beradaptasi dengan lingkungannya”. Hal ini seharusnya dapat menjadi pemicu agar Pustakawan maupun Mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi untuk belajar kembali.

(dibaca, diolah, diedit dan disajikan dari berbagai sumber)

Paninggilan, 13 November 2010. 23.08

Basics Of Classification

Alam Sebagai Media Belajar dan Pembentukan Karakter

Pendahuluan

Hadirnya berbagai metode pendidikan dan literasi di Indonesia dewasa ini telah membuka mata banyak pihak penyelenggara pendidikan. Berbagai inovasi baru di bidang pendidikan dan pengajaran telah sedemikian dinamis sesuai tuntutan zaman. Sehingga, kehadirannya turut mendukung berbagai metode yang telah sering digunakan sebelumnya.

Di lain pihak, banyak juga penyelenggara pendidikan yang masih menggunakan metode-metode lama sambil menyesuaikan dengan laju perkembangan pendekatan dan metode pengajaran kepada peserta didik. Peran sekolah sebagai institusi penyelenggara pendidikan pun semakin dituntut guna menciptakan suatu penyesuaian antara metode belajar dengan tuntutan pendidikan. Penyesuaian tersebut bergerak ke arah pembentukan karakter manusia pembelajar seumur hidup (long-life learning).

Munculnya sekolah-sekolah dengan kurikulum gabungan dari kurikulum Depdiknas dan kurikulum Internasional seperti Cambridge GCSE, A-Level, O-Level, dan CIPAT. Lalu, IB (International Baccalaureate) dengan IB-PYP dan IBMYP-DP telah menciptakan suatu cara pengajaran yang baru kepada peserta didik terutama dengan penekanan pada proses pembelajaran life skill, baik yang bisa dipelajari di dalam kelas maupun di luar kelas.

Penekanan pembelajaran yang bertujuan untuk melatih life skill peserta didik bisa melibatkan berbagai media. Satu media yang dapat digunakan adalah pembelajaran yang menggunakan alam sebagai media. Alam telah mengajarkan banyak hal kepada manusia maka dari itu tidak salah apabila alam dijadikan media belajar. Alam dengan segenap khazanahnya mampu menjadi sumber belajar terutama bagi pembentukan karakter peserta didik.

Dasar Penciptaan Alam Semesta

Dunia ini tidak diciptakan dengan kesia-siaan sehingga apapun yang ada didalamnya terdapat banyak hal yang mampu jadi sumber pembelajaran. Alam ini merupakan suatu anugerah yang didalamnya terdapat tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran, 3:190-191)

Sebagaimana telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an bahwa di alam raya ini terdapat sesuatu untuk dipelajari dan dipikirkan. Allah SWT telah menciptakan dunia ini dengan sempurna sebagai rahmat yang diturunkan-Nya kepada manusia.

“Dan Dia menundukkan untukmu, apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS Al Jatsiyah, 45: 13)

Manusia telah diberikan kelebihan oleh Allah SWT sebagai makhluk hidup yang sempurna dengan akalnya. Manusia memiliki akal untuk memikirkan apa yang telah dititipkan kepadanya dari Sang Pencipta. Manusia harus menyadari untuk menjalankan perannya sebagai makhluk Allah dan menggunakan akal serta pikirannya untuk menjadikan kehidupannya lebih bermakna.

Ilmu

Sudah sepantasnya manusia untuk memikirkan dan mempelajari apa yang telah diwasiatkan oleh Al-Qur’an. Manusia sebagai makhluk hidup yang diberi akal oleh penciptanya harus menggunakan akalnya itu untuk berpikir. Ilmu hadir sebagai bentuk hasil pikiran manusia. Ilmu tidak akan pernah berhenti pada satu titik karena ia tidak pernah abadi. Ilmu ibarat organisme yang selalu berkembang dan menjadi penanda zaman.

“Menuntut ilmu itu kewajiban bagi setiap orang Islam baik bagi laki-laki maupun perempuan. (HR. Ibnu Abdil Baar)

“Tuntutlah ilmu (ilmu pengetahuan dan segala ilmu-ilmu yang bermanfaat lainnya) dari mulai (sejak) buaian (Ayah dan Ibu) sampai masuk ke liang lahat. (Al-Hadits)

Ilmu adalah sesuatu yang wajib dimiliki dan dikuasai oleh seorang Muslim. Menuntut ilmu hukumnya adalah wajib. Ilmu menjadi dasar dari semua yang kita lakukan. Tanpa ilmu ibadah pun tidak akan ada artinya dan hilang esensinya. Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu dengan ikhlas maka telah dijanjikan kepadanya kedudukan atau kekayaan di dunia.

“Katakanlah, Apakah dapat disamakan orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui.” (QS. At-Taubah, 9:122)

Ilmu akan meninggikan derajat seseorang. Dengan menguasai suatu ilmu tertentu seseorang akan mempunyai kekuatan. Ilmu menjadi satu kekuatan yang akan mendasari setiap elemen kehidupan sebagaimana Al-Qur’an yang telah menjadi dasar bagi peletakan hukum-hukum Islam pada zaman Nabi dan Rasul.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang berilmu di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah SWT Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadillah, 58: 11)

Ilmu juga adalah bagian dari amalan. Ilmu merupakan amalan yang tidak pernah terputus. Ilmu akan tetap mendatangkan faedah dan kebaikan bagi mereka yang memiliki dan mau memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan sesama.

“Jika mati seorang anak Adam (manusia) maka terputuslah segala amal usahanya kecuali tiga hal yaitu ilmu pengetahuan yang bermanfaat, sedekah jariah, dan anak yang saleh yang selalu mendo’akan kepada orangtuanya.” (HR. Muslim)

Aplikasi Pembelajaran Ilmu di Alam

Penyusunan berbagai komponen pendidikan dalam mendukung kegiatan belajar adalah upaya untuk mempersiapkan peserta didik bagi peranannya di masa datang. Hal ini berkaitan dengan beberapa pertanyaan berikut:

  1. Apa atau siapa seseorang itu?
  2. Dapatkah seseorang itu diarahkan?
  3. Ke arah mana seseorang itu dipersiapkan?
  4. Bagaimana cara pengarahan yang baik bagi seseorang?

Dengan memperhatikan kepada pertanyaan-pertanyaan diatas, maka kecenderungan arah pendidikan mengarah kepada hasil pendidikan berupa kecerdasan yang dimiliki setiap peserta didik. Kecerdasan akan menuntun mereka menjadi pribadi atau individu yang sukses.

Kecerdasan bukan saja dilihat dari kemampuan anak untuk bisa berhitung, membaca dan menulis, meraih nilai yang bagus, dan memiliki IQ (Intelligence Qoutient) yang tinggi. Munculnya pemikiran lain tentang hubungan antara kecerdasan yang dikemukakan oleh Daniel Goleman, yaitu EQ atau yang biasa disebut Emotional Quotient dimana diungkapkan bahwa kesuksesan merupakan perpaduan dari 80% EQ dan 20% IQ.

Karena EQ merupakan faktor yang mendorong tercapainya kesuksesan, secara praktis kecenderungan pendidikan dilaksanakan untuk mengarahkan anak agar berani menghadapi tantangan serta tidak takut gagal dan mau mencoba lagi (trial and error). Hal ini sesuai dengan tujuan dari pembangunan karakter dari peserta didik.

Belajar di alam terbuka adalah satu metode alternatif guna menyampaikan materi-materi yang tidak dapat disampaikan di dalam kelas. Ada beberapa komponen yang diperlukan dalam mempelajari ilmu di alam. Satu yang paling penting adalah motivasi. Motivasi belajar bertujuan untuk memantapkan pengetahuan tentang ilmu yang dipelajari dan menguasai berbagai kemampuan yang dibutuhkan untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, peserta didik tidak hanya termotivasi untuk menguasai dasar teorinya saja tetapi juga aplikasi dan manfaat-manfaat ilmu yang telah dipelajarinya untuk kehidupannya kelak.

Motivasi belajar dapat diperoleh dari contoh-contoh yang mereka dapat selama proses pembelajaran. Peserta didik cenderung lebih mudah untuk melakukan sesuatu tanpa harus merasa terpaksa bila memang ada figur atau sosok yang dianggap istimewa bagi mereka.

Belajar dengan menggunakan alam sebagai media akan menumbuhkan potensi-potensi dan bakat yang terpendam yang merupakan suatu kekhususan yang terdapat dalam setiap individu peserta didik. Pendekatan proses belajar yang menggunakan direct line atau hubungan interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik menimbulkan suatu korelasi yang positif dalam pembentukan karakter seseorang.

Metode-metode yang digunakan dapat berupa teamwork (kerjasama) maupun individual task. Teamwork digunakan untuk menumbuhkan perasaan memiliki, kekeluargaan, melatih jiwa kepemimpinan, dan memupuk rasa solidaritas serta kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama. Sedangkan, individual task berguna untuk menumbuhkan jiwa pemberani, memupuk rasa percaya diri, berani mencoba, dan pantang menyerah.

Hubungan antara alam dengan ilmu terjalin dengan erat. Alam adalah semacam wahana ekspresi yang bisa juga dijadikan sebagai sarana belajar. Pembentukan karakter individu peserta didik haruslah selaras dengan ilmu yang diperolehnya di dalam kelas maupun dengan ilmu-ilmu lainnya tentang life skill yang bisa diperoleh dan dipelajari di alam bebas.

Pendidikan yang sifatnya hanya di dalam kelas saja tidak akan berhasil mengenalkan peserta didik pada hidden curriculum yang bersifat untuk membentuk karakter itu sendiri. Pendidikan karakter itu dapat diterjemahkan dalam berbagai cara seperti berikut:

  1. Manfaat. Selalu menunjukkan manfaat pengetahuan yang akan diajarkan bagi peserta didik.
  2. Kontekstual. Mengaitkan pengetahuan yang diajarkan dengan lingkungan nyata atau keseharian anak.
  3. Konstruktif. Peserta didik mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang dibutuhkannya. Artinya, bukan mengajar dengan metode banking (menjejalkan pengetahuan) tetapi menjadi fasilitator.
  4. Multiple Intelligent. Penerapan paradigma bahwa semua peserta didik memiliki kelebihan dan kecerdasan unik yang perlu digali dengan cara khusus. Dengan kata lain setiap anak juara atau bintang kelas.
  5. Demokratis. Peserta didik merasa bebas untuk bertanya, menyanggah, mengeksplorasi dan berdebat.
  6. Fun. Suasana belajar ceria. Bisa diiringi/ diselingi musik, bernyanyi bersama, game , cerita humor / teladan beserta hikmahnya.
  7. Meningkatkan keyakinan dan harga diri peserta didik. Dengan kata-kata bijak, memberi nilai, penghargaan dan  kata-kata yang membangkitkan percaya diri.
  8. Belajar yang nyaman, terang, bersih, beraroma menyenangkan, posisi duduk yang berpindah-pindah.
  9. Memfasilitasi model belajar peserta didik  yang auditori, visual dan kinestetik. Atau gaya belajar abstrak dan konkret.

10.  Melibatkan gerakan-gerakan fisik agar peserta didik aktif tidak duduk diam saja agar potensinya tidak terpendam.

Bila semua poin-poin tersebut sudah bisa dipenuhi maka selanjutnya adalah mengevaluasi hasilnya. Perubahan karakter peserta didik dapat terlihat dari beberapa kriteria seperti:

  1. Fisik yang kuat dan tidak lemah
  2. Berakhlaq mulia
  3. Cerdik cendekia
  4. Mandiri
  5. Beraqidah lurus
  6. Senantiasa beribadah dengan benar
  7. Bersungguh-sungguh dalam setiap urusannya
  8. Pandai mengatur waktu
  9. Bermanfaat bagi orang lain

Penutup

Pendidikan adalah suatu cara untuk mengubah taraf hidup masyarakat. Melalui pendidikan, kita telah dididik untuk menguasai ilmu dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Metode pembelajaran adalah alat yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan dari proses pendidikan itu sendiri. Melalui metode pembelajaran yang tidak hanya terpusat di dalam kelas diharapkan peserta didik mampu mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan lainnya yang akan berguna karena tidak hanya mengandalkan konsep teoritis belaka tetapi juga gabungan antara konsep dan teori dengan konteks pembelajaran.

Pendidikan di alam terbuka tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan proses pendidikan di dalam kelas. Pendidikan yang bersifat alamiah menuntun peserta didik untuk tidak sekedar hanya mendapatkan ilmu saja tetapi juga mampu untuk menerapkannya dalam rangka bersosialisasi dengan lingkungannya. Pembentukan karakter melalui proses pembelajaran di alam akan lebih bermanfaat karena peserta didik akan terlibat langsung dengan hal-hal yang lebih nyata.

Sudah saatnya para pendidik menggunakan berbagai metode alternatif demi mencapai tujuan-tujuan dari pendidikan sesuai dengan visi dan misi institusinya. Pencapaian semua tujuan itu tentu sejalan dan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya.

DAFTAR PUSTAKA

Association for Supervision and Curriculum Development Singapore. 1991. ASCD Review: Motivation.  Singapore: ASCD

Faridl, Miftah. 2000. Etika Islam: Nasihat Islam untuk Anda. Bandung: Penerbit Pustaka

Gymnastiar, Abdullah. 2004. Aku Bisa!: Manajemen Qolbu untuk Melejitkan Potensi. Bandung: MQ Publishing

Intisari Makalah Pekan Kerohanian Remaja II 1998 (PAKAR II). Masjid Raya Habiburahman.

Ditulis sebagai persyaratan rekrutmen calon Guru dan Staf Sekolah Alam Bandung, Januari 2010