Tanggung Jawab Masyarakat terhadap Perpustakaan: Membangun Perpustakaan Berbasis Komunitas

A great public library, in its catalogue and its physical disposition of its books on shelves, is the monument of literary genres.
— Cited in World Literature Today, Spring 1982, p.231. Robert MELANCON

Perpustakaan kini telah mengalami pergeseran makna. Dari yang tadinya hanya merupakan suatu tempat penyimpanan (deposit) kini menjadi salah satu daya tarik dengan munculnya media interaktif perpustakaan digital (digital library). Dalam hubungannya dengan bidang sosial kemasyarakatan, perpustakaan merupakan tempat dimana kita semua bisa mengetahui gambaran tentang perkembangan pemikiran masyarakat.

Sesuai dengan perubahan dan perkembangan masyarakat yang beranjak meninggalkan era industri dan menuju next generation society. Next generation society yang dimaksud adalah masyarakat informasi, yang menjadikan informasi sebagai salah satu komoditas utama dalam kehidupan sehari-hari.

Saat ini, belum ada batasan dan definisi yang disepakati mengenai masyarakat informasi. Namun begitu, masyarakat informasi dapat diartikan sebagai berikut:

“..An information society is a society in which the creation, distribution and manipulation of information is a significant economic and cultural activity…”

(en.wikipedia.org/wiki/information_society)

Bila pengertian tersebut diterjemahkan secara bebas maka akan diperoleh pengertian sebagai berikut:

“Masyarakat informasi adalah suatu bentuk masyarakat dimana penciptaan, penyebarluasan, dan manipulasi informasi merupakan sebuah kegiatan ekonomi dan kultural yang signifikan.”

Pada masyarakat informasi, teknologi informasi memegang peranan sentral dalam kegiatan-kegiatan produksi hingga manipulasi informasi. Karenanya, masyarakat informasi sering disebut sebagai suksesor dari masyarakat industri dimana alat-alat dan teknologi industri sangat mendominasi.

Selain masyarakat informasi (information society) banyak istilah lainnya yang digunakan untuk menggambarkan bentuk masyarakat setelah masyarakat industri diantaranya adalah post-industrial society yang dikemukakan oleh Daniel Bell, post-fordism, post-modern society, knowledge society, telematic society, information revolution, dan informational society yang dikemukakan oleh Manuel Castells.

Berbicara tentang informasi, maka tidak akan lepas dari perpustakaan. Sesuai dengan salah satu fungsi perpustakaan yaitu fungsi informatif maka sudah menjadi kewajiban bagi perpustakaan untuk menyediakan layanan khusus informasi. Apabila informasi di perpustakaan sudah bisa didayagunakan oleh masyarakat penggunanya maka informasi tersebut memiliki nilai guna bagi masyarakat.

Pada tatanan masyarakat tersebut, perpustakaan akan menjadi salah satu institusi yang akan dijadikan basis dalam penyediaan pengetahuan dan informasi bagi masyarakat, selain research university. Maka dari itu, perpustakaan akan memiliki peran yang sangat besar bagi kemajuan masyarakat tersebut.

Karena keterkaitannya yang sangat erat dengan keberadaan masyarakat disekitarnya maka masyarakat pun dituntut bertanggung jawab untuk senantiasa memelihara dan menjaga perpustakaan agar mampu memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat.

Ketertinggalan suatu masyarakat terutama disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu: ketidaktahuan, kemiskinan, dan penyakit (ignorance, poverty, and disease). Ketiga faktor berkaitan erat satu sama lain, dan dalam usaha untuk menanggulanginya biasanya diutamakan berbagai usaha yang dikhususkan pada teratasinya faktor ignoransi, seperti antara lain program pemberantasan buta huruf, disusul dengan penyelenggaraan sekolah-sekolah dan kursus-kursus.

Berbagai usaha tersebut ditujukan agar penguasaan pengetahuan dan keterampilan warga masyarakat meningkat. Secara singkat, berbagai usaha untuk mengatasi ketertinggalan sesuatu masyarakat biasanya dimulai dengan usaha untuk meningkatkan kecerdasan. Dengan meningkatnya kecerdasan masyarakat maka meluas pula cakrawala pandangan masyarakat yang bersangkutan.

Perpustakaan merupakan salah satu di antara sarana dan sumber belajar yang efektif untuk menambah pengetahuan melalui aneka macam bentuk koleksi perpustakaan. Berbeda dengan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari secara klasikal di sekolah, perpustakaan menyediakan berbagai bahan pustaka yang secara individual dapat diakses oleh peminatnya masing-masing.

Tersedianya beraneka bahan pustaka memungkinkan tiap individu memilih apa yang sesuai dengan minat dan kepentingannya, jika warga masyarakat itu masing-masing menambah pengetahuannya melalui pustaka pilihannya, maka akhirnya akan terjadi pemerataan dan peningkatan taraf kecerdasan masyarakat itu.

Perbaikan mutu kehidupan suatu masyarakat ditentukan oleh meningkatnya taraf kecerdasan warganya. Maka kehadiran perpustakaan dalam suatu lingkungan kemasyarakatan akan turut berpengaruh terhadap kondisi ketertinggalan masyarakat yang bersangkutan.

Melihat kondisi seperti ini, diharapkan adanya prakarsa untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang perlunya kehadiran perpustakaan dalam kawasan sekitar tempat tinggal dimana mereka berada. Banyaknya kawasan hunian baru yang dibangun oleh para pengembang tidak selalu disertai pengadaan perpustakaan sebagai fasilitas umum. Jangankan di daerah hunian yang sederhana, di kawasan hunian mewah pun keberadaan perpustakaan sebagai fasilitas umum cenderung diabaikan.

Justru yang jauh lebih ditonjolkan sebagai keistimewaan adalah adanya shopping mall, department store, factory outlet dan berbagai fasilitas rekreasi lainnya dibandingkan kehadiran perpustakaan yang bisa melayani dan memenuhi kebutuhan minat baca dari para penghuninya.

Kehadiran perpustakaan di pemukiman hunian seringkali masih dianggap hal yang tabu. Padahal, dengan tersedianya fasilitas perpustakaan umum akan menjadi nilai tambah bagi proses pencerdasan masyarakat.

Tersedianya perpustakaan di dalam suatu pemukiman hunian harus berdasarkan nilai-nilai sosial yang terdapat didalam lingkungan dimana perpustakaan itu berada. Karakteristik kebutuhan koleksi bahan pustaka masyarakat disekelilingnya pun perlu diperhatikan agar perpustakaan tersebut mampu didayagunakan oleh masyarakat disekitarnya.

Perlu dicatat, bahwa perpustakaan masa kini tidak hanya memiliki koleksi buku-buku, melainkan juga berupa perangkat digital untuk penyajian bahan melalui CD, VCD, CD-ROM, dsb. sejalan dengan perkembangan teknologi informasi.

Sejalan dengan kemajuan teknologi informasi, perpustakaan juga bisa berfungsi lebih dari sekedar tempat simpan pinjam bahan pustaka ditambah ruang baca belaka. Perpustakaan modern seharusnya bisa berfungsi bagi penyelenggaraan berbagai forum penerangan dan pembahasan tentang masalah-masalah aktual, antara lain melalui penyelenggaraan diskusi panel, seminar, simposium, lokakarya, dsb.

Perpustakaan juga dapat menyelenggarakan acara pameran buku, pemutaran film, perkenalan dengan pengarang dan sastrawan nasional maupun lokal. Melalui berbagai forum pembahasan itu niscaya dapat didorong perkembangan berbagai pemikiran mengenai masalah-masalah aktual yang diahadapi oleh masyarakat yang bersangkutan.

Dalam proses perkembangannya, anggota warga masyarakat akan membutuhkan keberadaan perpustakaan. selanjutnya, dengan bertemunya individu-individu yang memilki kesamaan pandangan terhadap ketersediaan perpustakaan, maka akan terbentuk suatu komunitas.

Sampai pada tahapan ini kiranya sudah cukup baik untuk memulai suatu gerakan untuk membangun kecerdasan masyarakat. Gerakan seperti ini biasa disebut dengan gerakan literasi lokal.

Gerakan literasi lokal adalah suatu gerakan untuk memberdayakan masyarakat dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi individu (sebagai bagian dari masyarakat) untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan literasi.

Dengan terbentuknya komunitas-komunitas seperti komunitas membaca, komunitas puisi, komunitas baca-tulis, dll, maka kegiatan dari komunitas-komunitas tersebut tidak bisa terlepas dari peran perpustakaan sebagai penyedia koleksi bahan pustaka. Perpustakaan akan memiliki daya guna dan terbantu dengan hadirnya komunitas-komunitas tersebut.

Hal ini merupakan timbal balik dari adanya suatu continuity planning untuk pemerataan kesempatan dalam pemberantasan buta huruf dan peningkatan kecerdasan masyarakat.

Masyarakat yang sudah terbantu dengan hadirnya perpustakaan kemudian membangun kembali suatu komunitas literer untuk memfasilitasi dan menjembatani kebutuhan masyarakat dengan kehadiran perpustakaan.

Dengan demikian ada suatu akibat timbal balik yang dihasilkan dari continuity planning ini dengan mendirikan suatu  perpustakaan yang berbasiskan komunitas. Jadi, hadirnya masyarakat informasi yang diimbangi dengan perpustakaan sebagai salah satu institusinya menghasilkan suatu tatanan baru di dalam masyarakat yang memiliki tanggung jawab untuk memelihara keberadaan perpustakaan sebagai fasilitas umum yang berhak dinikmati seluruh anggota masyarakat.

Komunitas-komunitas ini sebagai bagian dari suatu sistem kemasyarakatan memiliki responsibility untuk mengabdikan diri bagi pemenuhan kebutuhan pendidikan dan peningkatan kecerdasan masyarakat yang tidak bisa diperoleh secara formal di sekolah/universitas. Dengan kata lain, gerakan literasi lokal ini berupa suatu pendidikan non-formal yang bisa diikuti oleh siapa saja tanpa batasan.

Untuk menjadi bagian dari masyarakat global yang menjadikan informasi sebagai kebutuhan utamanya, dibutuhkan sumber daya manusia yang memadai untuk menyonsong tantangan global tersebut.

Dengan adanya gerakan literasi lokal yang mengutamakan komunitas-komunitas sebagai basisnya maka tidaklah berlebihan bila nanti suatu saat akan banyak bermunculan perpustakaan-perpustakaan yang berbasis pada karakteristik komunitas-komunitas itu tadi.

Karena yang membedakan antara masyarakat modern dengan masyarakat primitif adalah tingkat melek huruf maka tuntutan akan keberadaan suatu ruang publik yang bisa mengakomodir kebutuhan masyarakat (jasmani dan rohani) sudah menjadi keharusan sesuai dengan tuntutan masyarakat modern. Isu lainnya dalam hal tersedianya fasilitas perpustakaan adalah adanya kesadaran masyarakat terhadap tersedianya suatu ruang publik yang bisa dijadikan sebagai tempat rekreasi, center of knowledge, dan learning center.

Berdasarkan kepada kebutuhan publik tersebut maka perpustakaan harus mampu menjadi bagian dari solusi mengenai tuntutan publik tersebut. Perpustakaan harus bisa memposisikan dirinya sebagai tempat rekreasi yang patut dikunjungi dengan menawarkan beberapa kelebihan-kelebihan seperti mampu menjadi center of knowledge dan learning center yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Kemungkinan swakelola perpustakaan oleh masyarakatnya sendiri atau melalui komunitas-komunitas literasi perlu dipertimbangkan juga agar kehadiran dan fungsinya tidak terus-menerus diandalkan pada dukungan sumber daya dari luar, misalnya dari kalangan bisnis dan industri.

Namun demikian, dukungan tersebut sebaiknya ditujukan pada tumbuhnya kesanggupan swakelola perpustakaan oleh masyarakat yang bersangkutan. Kecenderungan untuk menggantungkan eksistensi perpustakaan pada dukungan dari luar masyarakatnya perlu diubah dengan menyadarkan masyarakat yang bersangkutan untuk sanggup secara mandiri mengelola dan mempertahankan kehadiran perpustakaannya demi peningkatan kecerdasan serta mutu kehidupan warganya.

Swakelola perpustakaan bisa menjadi nyata apabila masyarakat yang bersangkutan menyadari betapa perpustakaan dapat menjadi sumber belajar dan pada gilirannya berperan sebagai agen perubahan bagi segenap warganya.

Maka perlu dipikirkan berbagai cara agar perpustakaan dapat dihadirkan di berbagai cara agar perpustakaan dapat dihadirkan di berbagai kawasan pemukiman, terutama pada daerah yang kondisi dan taraf kehidupannya relatif tertinggal. Para pemuka masyarakat yang bersangkutan dapat berusaha menjalin kerjasama dengan dunia usaha dan industri yang adakalanya menyisihkan sejumlah dana bagi pengembangan komunitas (community development).

Bahan pustaka juga bisa diperoleh melalui kampanye pengumpulan sumbangan buku dan majalah dari perorangan maupun lembaga swadaya masyarakat. Tidak tertutup kemungkinan tersedianya bahan pustaka dan dokumentasi yang dapat dikumpulkan dari berbagai instansi, terutama bahan bacaan yang bersifat penyuluhan.

Dalam kerjasama dengan sekolah-sekolah dapat juga diusahakan pembuatan kliping dari media cetak oleh para pelajar sebagai pekerjaan rumah atau kegiatan ekstrakurikuler yang kemudian diteruskan sebagai sumbangan bahan bacaan di perpustakaan pedesaan.

Pendeknya, banyak cara untuk berusaha menghimpun bahan bacaan yang dapat dimanfaatkan oleh perputakaan pedesaan dan berbagai daerah hunian yang oleh satu dan lain sebab agak terbelakang pendidikannuya. Kehadiran perpustakaan di kawasan demikian itu niscaya besar dampaknya yang bersifat edukatif.

Dengan prakarsa tersebut, penyebaran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan sekaligus efektif berperan sebagai agen perubahan akan makin meningkat, terutama di kawasan pemukiman yang relatif tertinggal dalam usaha peningkatan kecerdasan serta perbaikan kehidupan warganya.

Dimulai dari Individu

Agar perpustakaan bisa bertahan dan terus memiliki nilai kegunaan bagi masyarakat di sekitarnya, harus ada penanaman nilai-nilai fungsionalitas perpustakaan yang ditanamkan sejak dini pada individu.

Berbagai kegiatan dari komunitas-komunitas literasi seperti story telling pada anak-anak harus dimanfaatkan untuk menanamkan nilai-nilai ini sejak dini. Selain itu juga, yang perlu ditanamkan juga adalah pemahaman long-life education, dimana pendidikan dan pembelajaran tidak akan berhenti pada suatu titik.

Apabila hal-hal tersebut bisa ditanamkan dengan baik maka nanti selanjutnya kita akan menuai hasil yang ditanam yaitu kesadaran untuk membaca dan kesadaran untuk terus belajar.

Kesadaran untuk membaca tidak hanya berarti hanya membaca buku ataupun koleksi bahan pustaka di perpustakaan saja. Tetapi juga membaca dalam pengertian luas yaitu, membaca perubahan zaman, membaca perkembangan pemikiran masyarakat, membaca kondisi sosiologis masyarakat setelah terbentuknya masyarakat informasi, dsb.

Kesadaran untuk belajar terus menerus akan menimbulkan suatu pemahaman-pemahaman, dan pengalaman-pengalaman baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Dengan belajar memahami sesuatu, individu akan memiliki pengetahuan yang cukup untuk menjadi manusia yang seutuhnya.

Dengan hadirnya gerakan literasi lokal yang cukup membantu memulihkan kesadaran masyarakat akan kebutuhan terhadap perpustakaan, posisi perpustakaan tidak lagi berada luar masyarakat. Tidak perlu ada lagi jarak antara perpustakaan dengan masyarakat sehingga tidak diperlukan lagi suatu ‘jembatan’ untuk menghubungkannya.

Perpustakaan akan menjadi bagian dari masyarakat, dimana kontribusi perpustakaan terhadap masyarakat akan dibalas dengan perhatian dan sense of belonging terhadap perpustakaan.

Partisipasi Pihak Lain

Kesadaran ini juga perlu mendapatkan perhatian pemerintah maupun pihak swasta. Pada dasarnya pendidikan adalah hak dan kewajiban seluruh warga negara. Dengan demikian, pemerintah harus menyediakan berbagai fasilitas pendukung untuk melaksanakan amanat tersebut.

Partisipasi pihak swasta pun diperlukan untuk menimbulkan kepercayaan dari masyarakat. Selain itu juga, partisipasi pihak swasta dalam penyediaan faslilitas perpustakaan umum dan pemberdayaan masyarakat merupakan salah bentuk dari corporate social responsibility.

Keterlibatan media baik media cetak maupun media elektronik diperlukan untuk memberikan wacana dan pemahaman terhadap pentingnya fungsi keberadaan perpustakaan di tengah masyarakat.

Media juga turut berperan serta dalam perkembangan taraf berpikir masyarakat. Terpaan media yang berjalan terus menerus menyebabkan masyarakat kehilangan orientasinya. Akibatnya, budaya baca dan minat baca masyarakat menjadi berkurang dengan hadirnya berbagai teknologi media.

Pengaruhnya adalah munculnya budaya instan. Namun, munculnya budaya instan ini tidak diikuti dengan berkembangnya pemahaman dan taraf berpikir masyarakat sehingga masyarakat cenderung mencari jalan pintas untuk mencapai tujuannya.

Agar tujuan-tujuan masyarakat mampu dicapai dengan tidak mengorbankan budaya baca dan perkembangan minat baca masyarakat maka media harus lebih arif dalam mensiasati dan merangsang audiensnya untuk memiliki kesadaran dan pemahaman terhadap pentingnya pemanfaatan perpustakaan. Minimal, media dapat memberikan pemahaman bahwa kehadiran perpustakaan tidak lepas dari keberadaan masyarakat itu sendiri.

Apabila elemen-elemen ini mampu bersatu dengan masyarakat disekitarnya maka terbentuknya suatu masyarakat yang cerdas dan siap bersaing menghadapi tantangan dunia global bukan lagi sekedar omong kosong.

Essay Ujian Akhir Mata Kuliah Perpustakaan dan Perubahan Sosial, Semester Ganjil TA 2006-2007

Advertisements

0 Responses to “Tanggung Jawab Masyarakat terhadap Perpustakaan: Membangun Perpustakaan Berbasis Komunitas”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s





%d bloggers like this: